Fenomena Fatin Shidqia dan Gejala Kompromi Fikih

di zaman ketika pelaksanaan syariah nyaris dilupakan, kita seringkali terjebak pada kompromi fikih

Kamis, 11 April 2013

oleh: Reza Ageung

 

fatin nyayi

fatin nyayi

BEBERAPA saat lalu salah seorang petinggi Majelis Ulama Indonesia melayangkan sebuah surat kepada kontestan acara televisi X Factor Indonesia yang sedang naik daun, Fatin Shidqia Lubis. Dalam surat nasihat itu, salah satu ketua MUI mengingatkan Fatin agar konsisten dengan jilbabnya dan tidak sekalipun melepas jilbabnya walaupun sibuk dalam karir musiknya. Ia menulis, “Pada suatu saat Fatin akan dihadapkan pilihan jilbab atau karir. Misalnya, akan ada yang membisikkan Fatin dengan kalimat, ‘Kalau mau menang, jadi juara satu, kamu harus lepas jilbab’. Bapak pesan sekali-kali jangan jual akidahmu demi karir duniawi”.

Gayung bersambut, Fatin yang masih duduk di bangku SMA itu pun mengatakan bahwa dirinya merasa senang mendapatkan surat tersebut. Maka ia pun meyakinkan publik bahwa ia tidak akan melepas jilbabnya sebagaimana dipesankan oleh sang tokoh.

Perempuan Boleh Nanyi, Asal… Continue reading

[Sejarah] Kopi, Minumannya Orang Islam yang Mencerahkan Eropa

kopiko

kopi

Selama abad pertengahan di Eropa, satu-satunya minuman pilihan selain air putih adalah alkohol. Di Perancis dan daerah lainnya yang tumbuh buah anggur, air sulingan anggur (wine) adalah minuman yang dominan. Sedangkan bir dan ale lebih populer di wilayah utara jauh.

Meminum air putih jarang dilakukan masyarakat saat itu, karena diyakini minuman alkohol jauh lebih bersih daripada air putih dan lebih mengenyangkan. Padahal akibat dari alkohol ini adalah masyarakat Eropa yang sering teler.

Di Yaman pada pertengangan tahun 1400-an, sebuah minuman baru yang terbuat dari biji kopi mulai sangat populer. Orang-orang Yaman saat itu memanggang biji kopi, kemudian merebusnya untuk menghasilkan minuman yang kaya kafein, sebuah stimulan yang menyebabkan tubuh memiliki lebih banyak energi dan otak menjadi berfikir lebih jernih. Continue reading

Intoleran? No problem

Karena Mengimani al-Quran dan As Sunnah, Kami Intoleran!

Oleh: Imam Nawawi

SEBAGAI negara majemuk, perbedaan nilai dan keyakinan adalah suatu keniscayaan. Tetapi, sepanjang perjalanan bangsa, pertikaian atau pun kerusuhan yang terjadi atas nama agama, senantiasa dipicu dan ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan sesaat. Bak sebuah tunggangan istimewa, isu-isu atas nama agama di Indonesia menjadi ‘daya tarik’ pihak asing yang ingin mendiskreditkan umat Islam.

Baru-baru ini, Lembaga Survey Indonesia (LSI) bekerjasama dengan Yayasan Denny JA, mempublikasikan hasil surveynya perihal sikap toleransi bangsa Indonesia terhadap keberagamaan orang lain, yang diklaimnya menurun.

Bahkan dalam siaran berita Metro TV, penyiar berita dengan terang mengatakan, “31 persen masyarakat Indonesia saat ini sudah tidak toleran terhadap keberagaman agama di Indonesia. Hal ini meningkat setiap tahunnya” (www.metrotvnews.com). Continue reading