Gereja Anglikan Makin Goyah

July 19, 2008

Laporan Lia van Bekhoven dari London

16-07-2008

bishop300.jpgMereka biasanya hanya sekali bertemu dalam 10 tahun, dalam pertemuan para uskup Anglikan dari segala penjuru dunia. Konperensi Lambeth yang dimulai hari ini, bukanlah pertemuan gembira. Uskup Agung Rowan Williams nyaris butuh kekuatan ilahi untuk bisa tetap mempertahankan persatuan dalam gereja Anglikan.

Sebenarnya gereja Anglikan sudah terpecah-belah. Belakangan sekelompok umat Anglikan konservatif mendirikan gerakan baru; gereja di dalam gereja. Seperempat rohaniwan Anglikan menolak hadir dalam konperensi yang berlangsung selama tiga pekan itu. Williams sendiri sudah dikritik kanan-kiri, kepemimpinannya dikecam secara terbuka. Pemicu semua keresahan ini adalah bangkitnya rohaniwan perempuan dan juga rohaniwan homoseksual.

Awal dari akhir
Ketika pada tahun 1970an, perempuan pertama ditahbiskan sebagai pastor, ratusan rohaniwan Anglikan meninggalkan gereja. Kebanyakan bergabung dalam gereja Katolik. Pekan lalu disahkah keputusan mentahbiskan perempuan sebagai rohaniwan. Sebanyak 1300 rohaniwan mengancam akan mundur. Baru pada tahun 2014 perempuan pertama akan ditahbiskan rohaniwan. Tapi yang penting di sini adalah prinsipnya. ‘Pertama pernikahan antara sesama jenis, dan kini perempuan yang bisa menjadi uskup. Ini adalah awal dari akhirnya,’ tandas pendeta David Houlding.

Walau bukan butir agenda resmi, dalam tiga pekan mendatang, perselisihan antara kelompok progresif dan tradisionalis jelas akan mewarnai konferensi. Gereja Anglikan mempunyai sekitar 70 juta umat di 164 negara, kebanyakan di bekas jajahan Britania. Sayap liberal, yang terwakili secara kuat di negara-negara berbahasa Inggris, mengimbau umat agar bersikap toleran. Kaum liberal menganggap umat Anglikan sebagai luas dan inklusif. Mereka ingin menyesuaikan gereja dengan perkembangan masyarakat.

Gene-Robinson-article.jpg
Gene Robinson

Homoseksualitas
Para rohaniwan Anglikan dari Afrika, yang sering menganggap homoseksualtias ilegal dan kriminal, cenderung menafsirkan Alkitab secara harfiah. Yesus punya 12 rasul laki-laki, katanya. Dan itu bukan kebetulan. Jadi kenapa kita harus menerima wakil gereja perempuan yang menduduki posisi tinggi? Tanggapan seorang anggota liberal berbunyi: “Karena tidak bisa dibayangkan, pada abad ke-21 ini, Yesus masih akan mengajarkan diskriminasi.”

Lama diupayakan untuk tidak mengungkit-ungkit homoseksualitas. Atau paling tidak menerimanya. Ini berlanjut sampai tahun 2003, ketika di Amerika Serikat, pastor pertama yang secara terbuka menyatakan diri homoseksual, Gene Robinson, ditahbiskan sebagai uskup. Sejak itu situasi seperti tak terkendalikan lagi. Suasana tidak tambah baik ketika gereja Anglikan di Kanada mulai memberkati pernikahan sejenis. Padahal sebelumnya umat Anglikan menetapkan homoseksualitas sebagai dosa. Robinson sendiri tidak diundang pada konferensi Lambeth.

Goyah
Jadi, gereja Anglikan sudah bertahun-tahun goyah. Menurut beberapa orang bahkan sudah berabad-abad, atau paling tidak sejak Raja Henry VIII memutuskan cabut dari gereja Katolik, karena Sri Paus tidak memberinya izin untuk cerai. Itulah awal gereja Anglikan. Konflik yang sekarang merebak bisa saja merupakan langkah pertama menuju desintegrasi agama negara Inggris ini. Ini mengingatkan orang pada berbagai peristiwa yang menyebabkan berdirinya gereja Anglikan lima abad lalu.

Kata Kunci: Anglikan, homoseksualitas


Miss Universe Ajang Eksploitasi Perempuan oleh Kapitalis Barat

July 19, 2008

Sudah beberapa kali, perempuan Indonesia dikirimkan dalam ajang Miss Universe. Menanggapi hal ini, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan keprihatinan terhadap keikutsertaan perempuan Indonesia dalam ajang yang merupakan bentuk eksploitasi kapitalisme global pada perempuan tersebut.

Hal ini diungkapkan dalam pernyataan resmi Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia yang disampaikan melalui Jurubicaranya, Febrianti Abassuni. Menurut Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, semua ajang tersebut menunjukkan bahwa ada upaya sistematis untuk membuat perempuan Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi moral yang berdasarkan nilai-nilai agama.

Dalam pernyataan resmi tersebut, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menolak perempuan dijadikan komoditas ukuran primitif berupa kemolekan fisik.

Mereka juga menyeru semua pihak untuk menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk apapun. Bila perempuan Indonesia ingin tampil di ajang internasional, maka perlu mengarahkan mereka untuk berprestasi tanpa mengorbankan jati dirinya sebagai umat beragama.

Terakhir, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia juga meminta semua pihak untuk mengarahkan perempuan Indonesia untuk berkarya dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri, bahkan sebagai negara pertama di dunia. Bukan sebagai negara pengekor yang hanya menjadi pasar bagi kapitalisme global. [z/hti/syabab.com