El Shirozy adalah Nisbat Syiah atau Yahudi …?

El Shirozy adalah Nisbat Syiah atau Yahudi …?

Bismillah ar rahman ar rahim

Penulis mendengar untuk pertama kalinya nama Habiburrahman el Shirozy di sebuah surat kabar harian nasional, Republika. Penulis membaca nama itu pada saat Novel Ayat-Ayat Cinta dimuat sebagai cerita atau novel bersambung setiap hari di harian Republika. Sudah sangat lama.

Yang membuat penulis merasa asing adalah nisbat El Shirozy di belakang nama Habiburrahman. Terasa asing karena memang nama ini jarang dan mungkin belum pernah penulis dengar. Nama-nama nisbat yang sering penulis dengar adalah nama-nama nisbat seperti al Jufri, al Habsyi, al Katiri yang terkenal di kalangan para Habib, kemudian al Jawi, al Qahthani, al Turki, Al Mishri, Al Banjari, al Bantani, al Qorni (yang menunjukkan nisbat daerah asal sang empunya nama) dan nama-nama lainnya yang sering dipakai pula oleh orang-orang ”salafy”(belum tentu bermanhaj salaf-hanya klaim) seperti as salafy, al atsary, dst (yang konon dalam buku Beda Salafy dengan Salaf dikatakan sebagai nishbat yang tidak boleh). Atau kalaupun tidak nama nisbat, yang tidak asing di telinga penulis biasanya nama marga seperti Shihab, Baswedan, Sungkar, Bawazier, Ba’asyir, dst. Nah, kata El Shirozy, adalah sangat asing dalam telinga penulis.

Pada waktu itu, saya bertanya dalam hati, ”Apa sih maksud El Shirozy ini?”

Apakah Habiburrahman (lebih akrab disebut dengan Kang Abik) ini berasal dari keluarga bermarga Shirozy? Atau apakah dia berasal dari daerah bernama Shiroz? Atau apakah ada makna lainnya? Pandangan kalau Kang Abik berasal dari daerah Shiroz, tentunya tidak mungkin, karena faktanya Kang Abik lahir di Jawa Tengah atau tepatnya di Semarang atau Demak. Seharusnya kalau demikian, mestinya namanya adalah Habiburrahman El Demaki atau El Samaranji, atau El Asyhari, dan atau El Jawi.

Berati kalau demikian, hanya ada kemungkinan bahwa Kang Abik berasal dari keluarga bernama Shirozy. Ternyata saya lagi-lagi salah. Nama keluarganya ternyata tidak ada embel-embel Shirozy sedikitpun.

”Lantas apa?” pikir saya waktu itu.

Setelah sekian tahun, pertanyaan itu kembali menyeruak dalam ingatan penulis. Apalagi setelah pemilik nama nisbat misterius tersebut berhasil membuat karya monumental yang spektakuler berupa sebuah novel bertajuk ”Ayat-Ayat Cinta” yang berhasil menjadi sebuah novel mega best seller. Tak hanya itu, film yang diangkat dari karya novelnya ditonton oleh tidak kurang 3 juta orang. Sungguh sebuah prestasi yang spektakuler. Namun, seiring dengan kesuksesannya muncul kontroversi yang tidak sedikit dan tidak sembarangan. Sehingga kemudian, pertanyaan misteri El Shirozy itu kembali terngiang.

Pada suatu hari, seorang kawan, memberitahu penulis agar penulis mencari (lebih tepatnya investigasi) tentang nama El Shirozy ini.

Saya bertanya,”kenapa memangnya?”

Dia menjawab,”saya merasakan aura yang aneh ketika mendengar nama itu.”

”Saya menduga ini ada kaitannya dengan nisbat di kalangan Syiah seperti nisbat Shadr dalam nama Mulla Shadr atau Muqtadha el Shadr. Atau kalau tidak, saya merasakan adanya aura Yahudi dalam nama itu.” tambahnya.

”Masak sih, mas?” tanya penulis.

”Masak Kang Abik bisa terkait dengan Yahudi atau Syiah? Dia itu dulu ustadz di Ma’had Abu Bakar lho mas. Alumni al Azhar lagi?” tanya penulis.

Terakhir, kawan penulis mengatakan,”makanya, cari dulu saja!”

Kemudian saya mencari-cari di internet beberapa hari dengan memasukkan kata-kata kunci di mesin pencari internet (search engine). Hasilnya, nol besar. Saya tidak memperoleh titik terang sama sekali.

Beberapa waktu kemudian atau beberapa hari yang lalu, sebagaimana biasanya, saya mencari berita-berita baru di internet untuk mengisi berita di http://muslimdaily.net dan blog saya tentunya (http://amaduq01.wordpress.com). Dalam mesin pencari, secara tidak sengaja, tertaut sebuah situs yang selintas berisi kata kunci Shiraz. Sejenak saya berpikir, saya jadi teringat kata El Shirozy. Diawali rasa penasaran, saya buka link site tersebut. Ternyata hanya berisi berita tentang sebuah ledakan kecelakaan. Namun, ledakan itu terjadi di sebuah kota bernama Shiraz. Dan daerah Shiraz itu ditulis dibelaknganya Iran. ”Shiraz, Iran”. Muncul frame-frame yang berjalan di depan mata saya tentang perkataan teman penulis di atas.

Setelah mendapatkan kata kunci tersebut saya kemudian menuju ke wikipedia. Saya masukkan kata kunci Shiraz. Kemudian sesaat kemudian keluarlah beberapa temuan.

Shiraz ternyata adalah nama sebuah daerah atau kota tua di Iran bagian selatan atau barat laut. Kota Shiraz adalah kota dengan populasi terbesar kelima di Iran setelah Teheran, Mashhad, Esfahan, dan Karaj. Dalam sensus pada tahun 2006, jumlah penduduk kota Shiraz mencapai total populasi sebesar 1,711,186 jiwa. Shiraz terletak di provinsi Fars. Kota ini sempat menjadi kota yang cukup terkenal sebagai pusat perdagang yang populer selama ribuan tahun. Pada masa pemerintahan Dinasti Zand, Shiraz sempat menjadi Ibukota Persia (1750-1781). Pada Abad ke 13, Shiraz dikenal sebagai daerah pusat kesenian, kebudayaan, sastra, pujangga, penyair, dan para pelajar. Kata Shiraz sendiri berasal dari sebuah lembaran dari tanah liat yang ditemukan pada tahun 1970, yang diduga telah berumur 2000 SM, yang bertuliskan nama kota itu yaitu Tirazis (Tiraziš). Kemudian, kata itu mengalami perkembangan dan perubahan secara phonetic menjadi /tiračis/ or /ćiračis/. Dalam bahasa persia kuno disebut /širājiš/; dan dalam masa modern berubah menjadi Shirāz.

Pada Abad ke 13, kota ini bisa dikatakan menjadi sebuah kota pusat peradaban sehinggal disebut sebagai Dar al-Elm / Darul Ilmi (Negeri Ilmu). Pada masa ini, kota ini menjadi pusat seni dan sastra sehingga kemudian melahirkan tokoh-tokoh yang cukup terkenal. Diantara tokoh-tokoh yang lahir dari rahim kota Shiraz adalah penyair bernama Sa’di dan Hafez penganut aliran kebatinan Roozbehan dan seorang philosof Mulla Sadra. Dan yang tidak kalah pentingnya, Shiraz merupakan sebuah kota yang menjadi tempat tinggal mayoritas kaum Yahudi Iran. Di kota inilah, konon, mayoritas penganut Yahudi Persia berkewarganegaraan Iran tinggal dan dilindungi. Lantas, kenapa kang Abik memilih nama El Shirozy di belakang namanya? Atas alasan yang mana? Kalaupun alasan karena Shiraz adalah kota yang pernah menjadi pusat sastra, kenapa beliau lebih memilih Shiraz tidak kota yang lain?

Di kota yang terkenal sebagai kota bunga dan kota anggur ini, juga dilahirkan seorang tokoh pendiri Aliran (Sesat) Baha’i, Sayyid Ali Muhammad. Pada 22 Mei 1844, dia mendeklarasikan misi pertamanya sebagai rasul pembawa risalah baru. Dan kemudian, dia menjadikan kota ini sebagai kota suci pengikut Baha’i dan kota tempat tujuan haji dan ziarah.

Konon, pernah terjadi sebuah isu rencana pembantaian atas kaumYahudi di kota ini pada tahun 1910 (mungkin holocaust kecil), dikarenakan adanya isu atau rumor bahwa kaumYahudi memiliki niatan untuk membunuh gadis-gadis muslim. Namun, pada akhirnya kaum Yahudi yang tewas hanya sebanyak 12 orang sedangkan yang terluka sebanyak 50 orang. Sementara 6000 orang Yahudi lainnya yang tinggal di kota ini ditekan oleh rasa mencekam karena harta-harta mereka dijarah. Apakah mungkin juga atas alasan ini, muncul iringan musik soundtrack Schindler’s List dalam Ayat-Ayat Cinta The Movie…?

Setelah saya membaca sekilas tentang hal di atas, saya mulai bertanya apakah jangan-jangan benar apa yang dikatakan oleh kawan penulis di atas. Apakah maksud Kang Abik menggunakan kata El Shirozy di belakang nama Habiburrahman? Apakah karena kota itu menjadi daerah tempat lahirnya aliran Baha’i? Atau karena alasan tempat lahirnya Mulla Sadra atau Mulla Shadr? Atau karena alasan bahwa Shiraz adalah kota tempat tinggal mayoritas Yahudi di Iran? Atau karena alasan lainnya? Sehingga, adakah keterhubungan antara soundtrack Schlinder’s list dan Yahudi dengan El Shirozy? Atau justru sebutan ”Kang” Abik yang berhubungan dengan ”Kang” Jalal alias Jalaluddin Rahmat yang notabene adalah penyebar akidah Syiah di Indonesia? Wallahu a’lam. (fikreatif/bbs)

4 responses

    • menurut penuturan adik kelasnya yg saya kenal, itu nama asli pemberian ortunya. shirozy kepanjangan dari sae (baik, bs jawa) rozy (gak tahu gue artinya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s