MENEGAKKAN TAUHID MERUNTUHKAN THAGHUT

MENEGAKKAN TAUHID MERUNTUHKAN THAGHUT

oleh UST. ABU BAKAR BA’ASYIR

Suatu bangsa tidak akan menjadi baik, bermartabat, dan mulia ketika Syari’ah Allah tidak ditinggikan serta dimuliakan di atas sistem hidup lainnya. Karena menegakkan Kalimah Allah berarti menegakkan kebaikan. Apabila Syari’ah Allah tegak, maka alam semesta ini akan diliputi oleh rahmat-Nya.

Setiap manusia yang menghalangi tegaknya Syari’ah Islam adalah Thaghut, baik mereka sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dan segala sistem hidup yang bertentangan dengan Syari’at Islam, seperti sekulerisme, sosialisme, demokrasi, termasuk aliran kepercayaan, adalah sistem hidup Thaghut.

Ketika nilai-nilai thaghut mendominasi kegitan manusia, maka prioritas utama yang diperjuangkan dahulu adalah menegakkan Syari’at Islam dan meruntuhkan supremasi thaghut. Sehingga seluruh agenda perjuangan umat Islam semestinya diarahkan kepada satu tujuan yang menjadi inti perjuangan tersebut.

Tegakkan Tauhid

Ibadah di dalam Islam berarti mengabdi kepada Allah dengan menegakkan Syari’ah Islam, sehingga secara konstitusional (apabila pengertian ini yang dipakai), umat Islam memiliki hak menuntut pelaksanaan Syari’ah Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara. Umat Islam, terutama para ulama, pemimpin, dan tokohnya yang membiarkan thaghut berkuasa dan menguasai kehidupan dengan memaksa umat Islam tunduk kepada aturan/undang-undang di luar Syari’ah Islam, adalah merupakan kemungkaran yang besar (akbarul munkar).

Janji Allah akan meninggikan harkat dan martabat kaum muslimin dengan Syari’ah Islam, tetapi karena hawa nafsu dan campur tangan thaghut yang mereka ikuti maka karakter mereka seperti anjing yang suka menjilat, sebagaimana firman Allah swt, Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajat mereka dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” (Terj. QS Al A’raf 7 : 176)

Dua kunci yang mewajibkan seseorang masuk neraka dan masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya, “Ada dua perkara yang mewajibkan.” Para sahabat bertanya, “Apa dua perkara yang mewajibkanitu wahai Rasulullah?” jawab beliau, “Barangsiapa yang mati tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun wajib masuk surga. Dan barangsiapa yang mati sedangkan dia masih menyekutukan Allah dengan sesuatu wajib masuk neraka.”

Jadi, persoalan tauhid dan syirik merupakan persoalan umat di dalam hidup ini, karena akan menentukan nasib akhir manusia, apakah dia menjadi penghuni neraka atau surga. Tauhid adalah kunci keselamatan dan kemuliaan. Sedangkan syirik adalah kunci kecelakaan dan kehinaan.

Seseorang yang mati dalam keadaan maksiat, masih dimungkinkan, mendapat ampunan Allah, apakah dia diampuni tanpa diazab atau diazab sebagai balasan kemaksiatannya kemudian dimasukkan ke dalam surga, sebagaimana firman Allah swt, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (syirik), maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Terj. QS An Nisa 4 : 116)

Pola pendidikan tauhid yang ditanamkan di dalam lembaga pendidikan formal maupun nonformal di Indonesia kebanyakan terbatas pada pengertian tauhid rububiyyah dan tauhid asma’ wa sifat. Misalnya, beriman kepada Allah sebagai pencipta, pemelihara, dan pemilik alam semesta. Hanya Allah yang dapat menghidupkan dan mematikan makhluk, hanya Allah yang memberi rizki, hanya Allah yang berkuasa atas segala sesuatu, beriman bahwa Allah itu Maha Hidup, beriman bahwa Allah itu Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui.

Biasanya, kalau sudah beriman kepada asma’ dan sifat Allah, mereka merasa sudah bertauhid, disinilah letak kekeliruan masyarakat dalam memahami pengertian tauhid. Sesungguhnya tauhid seperti ini juga diimani oleh iblis, syaithan dan fir’aun.

Sebagaimana permintaan (percaya) iblis kepada Allah yang diabadikan di dalam Al Qur’an, Iblis menjawab: “Berilah aku waktu (tangguh) hingga hari mereka (manusia) dibangkitkan.” (Terj. QS Al A’raf 7 : 14)

Doktrin Ketuhanan Yang Maha Esa yang selalu diajarkan penguasa kepada masyarakat adalah keyakinan yang juga dimiliki oleh orang-orang musyrik dan ingkar kepada Syari’at Allah swt. Sebagaimana syaithan dan fir’aun telah menentang perintah Allah untuk sujud kepada Adam as, dan menolak risalah yang dibawa Nabi Musa as.

Bila para politisi partai mengatakan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan makna tauhid dalam surat Al Ikhlash, maka konsekuensinya mereka harus memperjuangkan Kalimah Allah (Syari’ah Islam) agar menjadi rujukan pemerintah dan kebijakan negara dalam mengatur kehidupan rakyat Indonesia. Dan Syari’ah Islam harus menjadi kode etik para politisi muslim, dimanapun mereka berada dan pada posisi apapun mereka berperan, serta di dalam birokrasi negara, kemudian bekerja sama dengan seluruh potensi kaum muslimin yang merindukan Syari’ah Islam.

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (Terj. QS An Nahl 16 : 36)

Sudah saatnya umat Islam menegakkan tauhid, dan Syari’at Islam sebagai landasan negara, sehingga terhindar dari kesyirikan, dan terlindungi dari kezaliman penguasa yang tidak mau taat kepada Allah swt dan yang menolak Syari’ah Islam.

MEGAWATI SETARAKAN DIRI DENGAN NABI

Seloroh sesat Megawati Soekarno Putri yang diucapkan dalam pelantikan pengurus daerah Baitul Muslimin (Bamus) I Provinsi Jakarta, dan peresmian Pondok Pesantren Nurul Musthofa di Jalan Raya Ciracas, Jakarta Timur, pertengahan Maret 2008 lalu, merupakan penistaan bernada SARA. Mega menyatakan bahwa seorang presiden tak harus sarjana, kemudian menyetarakan dirinya dengan Nabi. Mengapa tidak menyetarakan dirinya dengan Fir’aun atau Namrud yang juga bukan sarjana?

“Nabi itu seorang pemimpin agama dan Negara, tapi nggak sarjana kok. Pemimpin jangan hanya ditentukan kalangan elite. Biarkan rakyat yang memutuskan,” katanya. (Rakyat Merdeka, 17 Maret 2008)

Ketua DPR RI Agung Laksono mengingatkan Ketua Umum DPP PDI-P yang juga mantan Presiden, Megawati Soekarno Putri agar tidak memasuki wilayah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Menurut Agung, masalah persyaratan capres itu masuk domain politik, jadi hendaknya Mega tidak membawa-bawanya ke wilayah agama. “Karena kalau di bawa ke domain SARA, resikonya besar. Jadi Mega harus hati-hati. Memang Nabi tidak sarjana, tapi apa tepat mengatakan seperti itu,” kata Agung Laksono di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/3).

Nabi Muhammad saw adalah uswah hasanah, figur manusia tauladan sepanjang zaman, baik bagi manusia muslim maupun kafir. Prof. Rozy, sarjana orientalis, dalam bukunya The Live of Mohammad, menyatakan bahwa tidak ada riwayat hidup manusia, tokoh apapun di dunia ini yang sedetail dan sejelas riwayat Muhammad, bahkan suasana tempat tidur dengan istrinya-pun terekam dalam catatan sejarah. Sehingga, dengan menampilkan riwayat hidup Muhammad, Islam akan mampu mengalahkan segala macam tantangan dari lawannya, kapanpun dan dimanapun juga. Inilah asset umat Islam yang tidak boleh dilupakan. Semakin sering dilecehkan, malah semakin banyak manusia memeluk Islam.

George Bernard Shaw, pujangga dan ahli Sosialisme Inggris (1856-1950) menyatakan, “Seperti Napoleon, saya-pun lebih suka kan ajaran Muhammad. Saya yakin bahwa seluruh imperium Inggris akan berakhir abad ini. Pribadi Muhammad sangat agung. Saya kagumi dia dan saya menganut Muhammad dalam pandangan hidupnya, selain saya menjunjung tinggi agama yang dibawa Muhammad setinggi-tingginya karena gaya hidup yang mengagumkan dari agama itu.” (Irene Handono, Islam Dihujat, hal. 327)

Siapa yang mengagumi Megawati sehebat itu? Namun, pertanyaan yang menyetarakan diri dalam posisi seorang nabi, bahwa nabi bukan sarjana adalah pelecehan terhadap agama. Karena kenabian adalah pangkat yag ditentukan Allah swt, sedangkan sarjana adalah pangkat yang ditentukan manusia. Megawati menyejajarkan pangkat Allah, adalah pelecehan pada Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s