Musim Bola, Musim Judi

Musim Bola, Musim Judi

“Gimana Bos, Itali vs Prancis, voor setengah ya, seratus!

“Ok, atur aja.!”

Dalam bulan Juni ini, dunia disuguhi tontonan ajang pesta sepakbola Euro 2008. Kejuaran empat tahunan yang kali ini mengambil tempat di negeri Alpen, Swiss-Austria ini cukup menyedot animo masyarakat untuk mengikutinya. Setelah ajang Piala Dunia, inilah hajatan terbesar yang mampu menghipnotis para pecandu sepak bola untuk setia menonton pertandingan kapanpun pertandingan ditayangkan. Bagi mereka yang ada di Eropa, hal ini menjadi tujuan rekreasi baru untuk liburan mereka. Namun di belahan lain dunia ini, di tempat yang bernama Indonesia, perhelatan ini juga mampu menjadi sarana “hiburan” tersendiri.

Para penggemar berat sepakbola (satu ton kali beratnya), ajang seperti Euro Cup, World Cup, South American Cup, Asian Cup, English Premiereship, Seria-A Italia, La Liga Espana, Champions League merupakan sebuah berkah karena dapat ,menyaksikan pertandingan ini gratis tanpa bayar. Bila kita lihat tayangan bola seperti ini di Negara-negara Eropa yang sudah “mapan” secara ekonomi, tayangan sepakbola hanya ditayangkan dari saluran TV kabel, artinya penonton harus membayar bila ingin menonton pertandingan melalui layar kaca, serti halnya membeli tiket masuk stadion. Itulah pernik-pernik sepakbola modern yang kini berkembang pesat menjadi bisnis jutaan dolar yang menggiurkan bagi para kapitalis.

Seperti kita ketahui, animo masyarakat begitu tinggi terhadap acara seperti ini. Mulai dari anak sekolah, anak kuli-ahan, pekerja pabrik, pekerja kantoran, pengusaha dan tukang becak turut larut dalam euphoria sepak bola.

Bahkan mereka sangat hapal bila disuruh untuk menyebutkan satu per satu anggota skuad (kaya tentara aja) Italia misalnya. Lebih fasih bila disuruh menyebutkan nama shahabat-shahabat nabi yang mulia.

Ini adalah kecil fenomena dalam pesta sepakbola. Dalam pembukaan artikel ini (kayak UUD ye) terekam percakapan dua orang yang sedang bertaruh untuk sebuah pertandingan.

Inilah effek buruk dari adanya acara seperti ini. Tidak hanya seratus, duaratus, bahkan bagi mereka yang berkantong tebal bisa jutaan rupiah, hayo. Bila dilakukan untuk amal sholeh bisa sangat bermanfaat sekali.

Bila nafsu judi datang siapa saja bisa ikut terlibat, tak hanya tua, yang muda dan anak-anak pun mungkin tak luput dari cengkraman judi ini. Karena tidak terkontrol secara jelas di masyarakat. ( Tidak ada laskar atau FPI yang nguber-nguber penjudi bola).

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

(al Baqoroh : 219)

Oleh karena itu perlulah kita mengingatkan kepada lingkungan di sekitar kita untuk mewaspadai fenomena judi dalam masyarakat. Bila duit sudah hilang maka, tidak ada yang disisakan untuk orang di rumah.

Rmd/own writing

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s