Golput Pilgub Jatim Bertambah

Pada putaran kedua pilkada Jawa Timur, diperkirakan jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak mereka akan naik. Menurut prediksi Lembaga Survei Nasional, sebanyak 50% pemilih di Surabaya akan memilih golput. Mengapa pemilih Jawa Timur memilih golput dan apa konsekuensi politik dari golput ini? Berikut penjelasan Kacung Maridjan, pakar politik pada Universitas Airlangga di Surabaya.

Kacung Maridjan [KM]: Sebetulnya, golput itu, kalau didefinisikan sebagai orang yang tidak Jawa Timur.jpgikut dalam memilih, itu bukan hanya khas Jawa Timur. Tapi di daerah-daerah lain juga kita temui. Di Jawa Tengah itu lebih dari 40%. Kemudian di kota Surabaya sendiri itu, hampir 50%. Dan di beberapa lainnya juga demikian, antara 20 sampai 40%.

Ini artinya pilkada memang, angka golputnya itu jauh lebih tinggi kalau dibandingkan dengan pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden. Jadi ini sebetulnya bukan khas Jawa Timur, tapi juga terjadi di daerah-daerah yang lain.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Mengapa para pemilih memilih untuk golput?

Pragmatis
KM: Banyak faktor sebetulnya kalau kita lihat, misalkan yang terjadi belakangan ini. Yang pertama adalah ini berkaitan dengan apatisme, akibat kekecewaan kepada para elit politik. Bagi para pemilih mungkin memilih atau tidak memilih itu tidak membawa perubahan yang berarti untuk mereka. Jadi mereka kemudian berpikiran pragmatis, ya sudah memilih itu sama saja. Daripada memilih lebih baik tidak memilih.

Itu mungkin salah satu faktor. Nah faktor yang lain itu ada kaitannya dengan masalah teknis. Kan kadang-kadang misalnya golput itu terjadi karena orang itu tidak misalnya memilik kartu tanda pemilih, sehingga mereka kemudian tidak ikut memilih. Nah, yang lain ada juga karena misalnya faktor-faktor ekonomis, mereka misalnya melakukan pekerjaan daripada ikut memilih. Lebih baik misalnya pergi ke sawah atau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Jadi sebetulnya kalau dilihat kenapa orang itu golput memang, jawabannya bisa bervariasi.

RNW: Pihak mana yang bisa menekan angka golput pada putaran kedua?

KM: Untuk golput putaran kedua ini diperkirakan lebih tinggi, karena pertama orang-orang yang gagal memilih calonnya tadi, misalnya kan ada calon nomor dua, tiga dan empat itu kan tidak ikut putaran kedua. Artinya pilihan mereka yang pertama itu sudah tidak bisa ikut bersaing pada putaran kedua. Ketika kemudian mereka melihat tidak ada preferensi yang kedua, maka mereka cenderung untuk golput.

Golput
Sejauh mana sebetulnya golput putaran kedua ini bisa ditekan, saya kira tidak lepas dari pertama sosialisasi KPU untuk pilkada yang akan datang, itu sejauh mana mampu menembus semua lapisan masyarakat. Juga persoalan-persoalan teknis misalnya kartu-kartu undangan untuk memilih itu mungkin sampai kepada para pemilih. Yang adalah kemampuan ini calon-calon yang ikut running pada putaran kedua untuk meyakinkan kepada pemilih bahwa mereka itu memang akan mewujudkan angan-angan program-program yang telah dijanjikan. Jadi mereka memang agak berbeda dengan yang dibayangkan oleh pemilih-pemilih sebelumnya, sehingga dengan demikian, ya mereka akan bisa cenderung untuk datang ke pemilu. Tapi kalau misalkan para calon itu gagal untuk meyakinkan mereka, ya golput tetap akan tinggi.

RNW: Kalau memang golput akan tetap tinggi ya, apa konsekuensi politiknya?

KM: Sebetulnya untuk dari segi yuridisch formal kan nggak ada masalah. Di beberapa negara parlemen demokrasi yang sudah mapan, angka golput juga 50% kan, 40-50% itu kan cukup tinggi. Ini di negara-negara di mana pemilu tidak wajib. Dan Indonesia kan menganut rezim pemilu tidak wajib. Jadi ketika pemilu tidak wajib, maka peluang untuk golput memang lebih tinggi.

Kemudian yang lain adalah bahwa bagaimana pun juga pilihan mereka akan berkonsekuensi kepada kebijakan-kebijakan yang lebih kuat oleh orang yang terpilih. Ini tentu saja akan mempengaruhi semua kehidupan masyarakat yang terkenal oleh policy pemerintah.

Cuma begini secara kelakar begini, ada juga sesuatu yang ironi. Jadi begini, ketika orang itu misalkan tidak mau perduli untuk ikut memilih, maka pemerintah bisa saja berpikiran kenapa kita juga harus perduli kepada orang yang tidak mau memilih katakanlah begitu. Kalau ini terjadi kan juga payah bagi kehidupan demokrasi. Karena bagaimana pun juga orang-orang terpilih itu, itu harus punya perhatian kepada orang-orang yang memilih mereka.

Kata Kunci: Jawa Timur, pemilih, pilkada, Survei Nasional

source:ranesi.nl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s