Zakat Fitri

RISALAH TENTANG

ZAKAT FITRI

Oleh : Jundan bin Muznin

1. HUKUMNYA

Hukum mengeluarkan zakat fitri adalah wajib ‘ain atas setiap muslim1. Dan menurut Imam tiga Malik As Syafi’i, Ahmad dan Jumhur hukumnya adalah fardlu.2 Sebagaimana perkataan Ibnu Umar ra:

حديثُ ابنِ عمر رضي الله ُعنه أنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَرَضَ زكاةَ الفطرِ صاعًا من تَمْرٍ أَو صاعًا مِن شَعِيٍر عَلى كُلِّ حُرٍّ أو عبدٍ أَو ذَكَرٍ أوْ أُنثىَ من المسلمين (متفق عليه)

” Bahwa Rasululloh telah mewajibkan zakat fitri dibulan romadlon sebanyak satu sho’ gandum, atas hamba sahaya, maupun kepada merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar, dari kaum muslimin. 3

Adapun syarat wajib zakat, menurut Hanabilah adalah: Islam, merdeka, memiliki ukuran yang lebih dari kebutuhan pokoknya dan menurut pendapat Imam Syafi’i, adanya kelebihan dari kebutuhan pokok yang ia gunakan dan orang-orang yang menjadi tanggungan untuk menafkahinya. 4

2. HIKMAH DIKELUARKANYA ZAKAT FITRI

1. Menyucikan jiwa orang yang shoim dari perbuatan laghwun dan kotor

Ibnu Abbas berkata:

عَن ابن عبَّاس رضيَ الله عنهما قال فَرَضَ رسولُ الله صَلى الله عليه وسلم زكاةَ الفطرِ طهرةً للصائمِ مِن اللَغوِ والرَّفثِ وطعمةً للمَسَاكينِ فَمَن أدَّاها قبل الصلاةِ فهي زكاةٌ مقبولةٌ ومن أدَّاها بعدَالصلاةِ فهي صدقةٌ مِن الصدقاتِ (ابن ماجه وابو داود)

“Bahwa rosululloh saw telah mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian jiwa orang yang shoum dari penyakit laghwun, rofats, dan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang fakir serta miskin ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah serta dishohihkan oleh al Hakim. Adapun lengkapnya adalah: Barang siapa yang mengeluarkan sebelum sholat ied maka itu diterima dan barang siapa yang mengeluarkan setelah sholat ied maka itu adalah sedekah.1

2. Memenuhi kebutuhan fakir miskin agar tidak meminta-minta pada hari raya.

Rasululloh saw bersabda:

قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم :أغنوهُمْ عنِ السؤالِ فِى هذ اليَومِ (البيهقي)

” Kayakanlah mereka (fakir miskin) dari meminta-minta pada hari ini2

3. Membina dan mempererat tali persudaraan sesama umat islam

4. Menghilangkan sifat bakhil dan loba pemilik kekayaan

5. Menghindarkan pemupukan harta perorangan yang dikumpulkan atas penderitaan orang lain

6. Mencegah jurang pemisah antara si miskin dan si kaya yang dapat menimbulkan masalah dan kejahatan sosial 3

3. JENIS DAN UKURAN ZAKAT FITRI

Ukuran zakat fitri yang telah ditentukan oleh Rasululloh saw adalah satu sho’ atau sebanding dengan empat mud. Dan yang dikeluarkan adalah jenis mkanan yang digunakan diNegeri tersebut. Baik itu gandum, Kurma, beras, zabib, dan lain sebagainya. Malikiyah menambahkan lebih baik lagi kalau jenis yang dikeluarkan berupa bahan makanan yang terbaik dinegeri tersebut.4

Sebagaimana perkataan Abu Said ra:

عن اَبي سعيد الخذري رضي الله عنه قَالَ كُنَّا نُخرجُ زكاةَ الفطرِ صاعًا مِن طعامٍ أَو صاعًا مِن شعيرٍ أو صاعًا مِن تمَرٍ أو صاعًا مِن أقطٍ أَوْ صاعًا مِنْ زَبيبٍ (متفق عليه)

” Kami (ketika bersama Rasululloh saw.) mengeluarkan zakat fitri dari setiap individu baik anak kecil, Besar, hamba sahaya, merdeka, mengeluarkan satu sho’ dari makanan pokok atau satu sho’ dari susu yang kering,atau satu sho’ dari gandum, atau satu sho’ dari kurma atau satu sho’ dari zabib. 5

Yang wajib dikeluarkan adalah makanan pokok. Adapun selain makanan pokok seperti uang atau dikiaskan dengan yang lain ini tidak diperkenankan. kecuali kalau memang terpaksa sekali. Karena yang demikian tidak pernah ditetapkan oleh Rasululloh saw. bahkan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. 6

3. WAKTU PENGELUARAN

Wajib mengeluarkan zakat fitri adalah malam hari raya ‘ied. Adapun waktu mengeluarkanya adalah:

1. Waktu yang dibolehkan,

Yaitu mengeluarkanya satu hari atau dua hari sebelum sholat ‘ied (sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Ibnu Umar ra. Menurut Imam As Syafi’i, Boleh mengeluarkan zakat fitri diawal bulan romadlon. Sedangkan Hanabilah berpendapat: Boleh mengeluarkan zakat fitri dua hari sebelum hari raya. Seperti yang diriwayatkan oleh imam Bukhori:

وكان ابن عمر رضي الله عنهما يُعطِيهَا الّذين يَقبَلونهَا. وكَانُوا يُعطون قَبلَ الفطرِ بِيومٍ أو يَومَينِ (البخاري)

Bahwasanya Ibnu Umar ra. mengasihkanya kepada orang yang menerimanya. Dan mereka mendapatkannya sehari atau dua hari sebelum hari raya fitri. 1

2. Waktu yang utama

Yaitu mengeluarkannya dimulai dari terbitnya fajar hari ‘ied sampai dengan sebelum dimulainya sholat ‘ied. Sebagaiman perintah dari Rasululloh saw :

عن ابن عمر قال أَمرَ رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلم بِزكاةِ الفطرِ أنْ تُؤدَّى قَبلَ خُروجِ النَّاسِ الى الصَّلاةِ (زاد المعاد لابن القيم ص2 \ 20)

” Dari Ibnu Umar ra. berkata:” Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fitri sebelum keluarnya manusia untuk sholat ied .” 2 Begitu juga sebagaimana perrkataan Ibnu Abbas yang termaktub diatas.

3. Waktu qodlo’

Yaitu mengeluarkan zakat setelah sholat ‘ied, Hukum zakat syah dan mendapat pahala tetapi makruh.

Sabda Rasulullah saw: “

…فمن ادَّاها قَبلَ الصَّلاةِ فهي زكاةٌ مقبولةٌ ومَن أدَّاها بَعدالصلاةِ فهي صدقةٌ من الصّدقاتِ (ابن ماجه وابو داود)

Secara dlohir hadits ini menyatakan bahwa orang yang mengeluarklan zakatnya setelah hari raya maka ia sama dengan tidak mengeluarkan zakat. Jumhur berpendapat:” mengeluarkan zakat sebelum sholat ‘ied adalah perbuatan mustahab. Mereka juga menyatakan bahwa zakat yang dikeluarkan setelah sholat ‘ied itu syah dan berpahala sampai akhir hari raya karena tujuan yang dicapai dari dikeluarkannya zakat adalah mengkayakan orang fakir dan miskin dari berkeliling dan meminta-minta pada hari itu. sebagaiman Sabda Rasululloh saw yang termaktub diatas.

Adapun mengakhirkan-akhirkan sampai akhirnya hari raya, Ibnu Ruslan berkata:”HARAM HUKUMNYA MENURUT KESEPAKATAN” Dikarenakan kewajiban zakat sama dengan kewajiban sholat. Barang siapa yang mengakhirkan dari waktu yang ditentukan maka berdosalah ia. Al mansur billah menerangkan bahwa waktu mengeluarkan zakat fitri adalah sampai hari ketiga dari bulan Syawal 3

Sedangkan Hanabilah berpendapat akhir dari pembayaran zakat fitri adalah terbenamnya matahari di hari ‘ied itu 4

4. ORANG YANG BERHAK MENDAPATKAN ZAKAT.

Orang yang berhak atas zakat fitri tidak berbeda dengan orang yang berhak atas zakat mal secara umum. Karena zakat ini masuk dalam keumuman firman Alloh swt:”

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْن والعَامِلِيَن عَلَيْهَا وَالمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُم وَفي الرِّقَابِ وَالغَارِمِيَن وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابنِ السَّبِيلِ فَرِيْضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ (التوبة :60)

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana. 1

Walaupun fakir dan miskin dalam hal ini lebih diperioritaskan dari pada yang lain. Rasululloh saw bersabda:

قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم :أغنُوهُم عن السؤالِ فى هذَا اليومِ فَلاَ تُدفَع لِغيرِ الفُقَرَاءِ إِلاَّ عِندَ انعدَامِهِم أوْ خِفَّةِ فَقرِهِم أوْ اشْتِدَادِ حَاجَةِ غيِرهم مِن ذَوِي السِّهَامِ

” Kayakanlah mereka dari meminta-minta pada hari ini. jangan dikeluarkan kepada selain mereka kecuali kalau tidak ada sama sekali, atau ringannya kefakiran mereka atau beratnya kebutuhan selain fakir miskin itu dari golongan yang mendapatkan bagian zakat.2

5. KAPAN ORANG FAKIR WAJIB MENGELUARKAN ZAKATNYA

Jumhur mensyaratkan atas wajibnya mengeluarkan zakat atas orang fakir Jika ia memiliki makanan yang lebih untuk digunakan olehnya dan orang-orang yang menjadi tanggunganya selama hari raya. Punya kelebihan dalam tempat tinggal, harta, dan keperluan sehari-harinya. Jika ada orang memiliki sebuah rumah yang hanya digunakan untuk bertempat tinggal, atau untuk disewakan dalam rangka mencari nafkah, atau memiliki hewan tunggangan yang digunakan untuk mengangkut atau dimanfaatkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pokoknya, atau memiliki barang dagangan tetapi jika dikeluarkan hartanya untuk membayar zakat tidak memenuhi kebutuhanya sehari-hari atau akan habis untungnya, maka ia tidak ada kewajiban untuk membayar zakat. Atau jika ia memiliki beberapa kitab untuk dibaca, maka ia tidak usah menjualnya kemudian digunakan untuk membayar zakat fitri. Orang perempuan yang memiliki perhiasan untuk dipakai, ia tidak usah menjualnya dalam rangka untuk membayar zakat. Tetapi jika ia ada kelebihan dari kebutuhan pokok, boleh menjualnya untuk menbayar zakat fitri, dan kalau ini dilakukan pada hakikatnya tidak ada kerugian yang mendasar terhadap kehidupanya.3

6. BAGAIMANA SEORANG ISTRI DAN ANAK MENGELUARKAN ZAKAT

Menurut pendapat Abi Hanifah, bahwa zakat fitri wajib bagi wanita yang punya suami maupun tidak. Adapun menurut pendapat imam Tiga, Al Laits, serta Ishaq, Sesungguhnya seorang suami wajib mengeluarkan zakat fitri bagi seorang istrinya. Karena ia termasuk orang yang menjadi tanggungan untuk menafkahinya. Mereka juga sepakat bahwa seorang muslim tidak boleh mengeluarkan zakat bagi istri yang kafir, meskipun dalam urusan nafkah masih menjadi kewajibanya.

Adapun untuk anak kecil, menurut pendapat jumhur, jika anak tersebut memiliki harta, wajib dikeluarkan darinya dan yang mengeluarkan adalah walinya. Tetapi jika ia tidak memiliki harta sendiri, maka kewajiban zakatnya dibebankan atas orang yang menanggung nafkahnya.4

7. WAJIBKAH JANIN UNTUK DIZAKATI

Menurut jumhur fuqoha’, Zakat fitri tidak wajib atas janin.

Ibnu Hazm berkata:” Jika janin telah genap (dalam perut ibunya) seratus dua puluh hari sebelum menyingsingnya fajar hari raya, wajib dikeluarkan zakat fitri atasnya.

Ibnu Hazm berhujjah, Bahwa Rasululloh saw telah memerintahkan untuk mengeluarkan zakat atas anak kecil dan dewasa. Sedangkan janin termasuk dari anak kecil. Maka setiap hukum yang diberlakukan atas anak kecil berlaku juga terhadap janin. Ibnu Hazm meriwayatkan dari Utsman bin Affan bahwasanya ia mengeluarkan zakat fitri atas anak kecil, dewasa, dan janin dalam kandungan.

Yang benar bahwa apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm tidaklah memilliki dalil yang kuat atas wajibnya mengeluarkan zakat fitri atas janin. Dan salah jika dikatakan bahwa kalimat anak kecil (shoghir) dalam hadits mencakup janin yang ada dalam kandungan. Dan apa yang diriwayatkan oleh Utsman ra dan yang lainnya tidaklah menunjukkan adanya istihbab dalam mengeluarkanya. Barang siapa yang melakukanya itu baik baginya.

Imam Syaukani menyebutkan bahwa Ibnu Mundir telah menukil sebuah ijma’ atas tidak wajibnya mengeluarkan zakat kepada janin. Sedang Imam Ahmad mengistihbabkan bukan mewajibkanya.1

8. UKURAN SATU SHO’

Satu sho sama dengan empat mud. Menurut hanafiyah, satu mud sama dengan 1,032 liter atau 815,39 gram. satu sho’ sama dengan 4,128 liter atau 3261,5 gram. 2 Adapun menurut Imam syafi’i, Ahmad, Malik, satu mud sama dengan 0,687 liter atau 543 gram. satu sho’ sama dengan 2,748 liter atau 2176 gram3

9. SYARAT-SYARAT MUSTAHIQ ZAKAT

1. Fakir kecuali Amil, Ibnu sabil, pengarang, pejuang fisabilillah meskipun mereka termasuk orang yang kaya. Begitu juga zakat halal bagi tholibul ilmi as syar’iyyah, dikarenakan menuntut ilmu syar’i adalah fardlu kifayah, ditakutkan karena dengan cenderung untuk bekerja akhirnya ia meninggalkan kewajiban menuntut ilmu tersebut.

2. Muslim, Tidak boleh memberikan zakat kepada orang kafir (tidak ada khilaf antar fuqoha’ dalamhal ini)

3. Bukan merupakan tanggungan nafaqoh bagi muzakki. Yaitu kaum kerabat, istri, seperti orang tua (Keatas), anak (kebawah) hal ini diKarenakan menafkahi mereka adalah wajib hukumnya. Boleh memberikan zakat kepada kerabatnya yang lain seperti saudara laki-laki maupun saudara perempuan, paman, bibi, dan lain sebagainya. Sesuai dengan hadits Nabi saw:”

لحديث الطبراني عن سلمان بن عامر : الصّدقةُ على المسلمين صدقةٌ وهي لذي ا لرحْمِ اثنتان, صدقةٌ و صِلَّةٌ.(الطبراني). بل اِنَّ القرابةَ اَحقُّ بِزكاَةِ المُزَكِّي قال مالكُ, أَفضلُ مَنْ وضعتَ فيهِ زَكاتكَ قَرَابَتَكَ الَّذِي لاَ تَعولُ (الفقه الاسلامي 2\885,886)

Oleh hadits thobrony, Dari Salman bin Amir:” Sebuah Shodaqoh atas muslim adalah shodaqoh dan jika ia diberikan kepada dhawi rohim dapat dua perkara yaitu shodaqoh dan menyambung tali persaudaraan.

Bahkan kerabat itu lebih berhak atas zakat. Imam malik berkata:”Lebih utama jika kamu memberikan zakatmu kepada kerabatmu yang bukan merupakan tanggunganmu.4

4. Tidak dari Bani Hasyim

5. Baligh, berakal, merdeka. 5

10. MENGELUARKAN DALAM BENTUK UANG / NILAI NOMINAL

Menurut hanafiyah, boleh mengeluarkan zakat dalam bentuk uang, dirham, dinar. karena Kewajiban yang dibebankan pada hakekatnya adalah mengkayakan orang miskin dan fakir. Sebagaiman sabda Rasululloh saw.

قال رسول الله صلّىالله عليه وسلم :أغنوهُم عنِ السّوالِ في هذا اليومِ

“Kayakanlah mereka dari meminta-mita pada hari ini”

Sedangkan mengkayakan mereka dapat tercapai dengan uang, bahkan lebih sempurna, dan mudah digunakan.

ولا يُجْزئ عند الجمهور إِخراجُ القيمةِ عن هَذه الاصنافِ. فَمَن أَعطىَ القِيمَةَ لَمْ تُجزِئْهُ, لِقولِ ابن عمرَ: فَرضَ رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلّم صدقةَ الفطرِ صاعًا مِن تمرٍ وصاعًا مِن شعيٍر. فإِذَا عَدَلَ عَن ذَالكَ فَقد تَركَ المَفْرُوضِ

Sedangkan Jumhur berpendapat :”Tidak diperkenankan mengeluarkan uang sebagai ganti dari jenis-jenis makanan pokok. Barang siapa yang membayar zakat dengan uang maka tidak mendapatkan jaza’. Sebagaimana perkataan Ibnu Umar ra:” Jika menyelisihi dari jenis yang telah ditentukan (makanan pokok), maka ia telah meninggalkan kewajiban. 1

Dalam Al Majmu’ fi Syarh al Muhadldlab Disebutkan :

قال المصنف رحمه الله : ولايجوزُ اَخذُ القيمةِ في شيئٍ مِنَ الزَّكاةِ لإِنَّ الحقَّ للهِ تعالَى وقَد علَّقَهُ على مَا نَصَّ عَليهِ فَلاَ يجوزُ نقلُ ذالكَ الى غيرِهِ كَالأُضْحِيَّةِ لما عَلَّقَهَا عَلَى الانْعَامِ لَمْ يَجُزْ نقلُهاَ اِلى غيِرهَا

Mushonnif berkata:” Tidak diperbolehkan mengambil zakat dari bentuk nominal, Karena ini adalah haq Alloh swt yang telah ditentukan dalam nash. Maka tidak diperkenankan mengganti dengan yang lain, sebagaimana hewan sembelihan dalam Udh hiyyah yang telah ditetapkan harus dari binatang ternak, tidak boleh diganti dengan selain dari binatang tersebut.2

11. TAMBAHAN:

1. Boleh seorang istri memberikan zakatnya kepada suaminya yang fakir dan tidak boleh seorang suami memberikan zakatnya kepada istrinya. Karena seorang suami sudah wajib hukumnya memberikan nafkah kepada istrinya.

2. Kewajiban zakat fitri ini gugur dari orang yang tidak memiliki kebutuhan makanan pokok

3. Boleh membagikan zakat orang satu kepada beberapa mustahiq, begitu juga boleh membagikan zakat beberapa orang kepada satu mustahiq.

4. Tidak boleh memindah zakat ini dari suatu negri kenegri yang lain.3

5. Wajib bagi seorang Imam mengutus beberapa utusan (Sebagai ‘amil) untuk mengambil zakat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw dan para sahabat. Karena diantara orang yang memiliki harta tersebut ada yang tidak mengetahui kewajiban yang ada padanya, bakhil terhadap hartanya. Maka wajib untuk diutus sebuah utusan dalam rangka mengambil harta tersebut.4

Seorang Imam tidak boleh mengutus seorang kecuali mereka yang merdeka, adil, dan tsiqoh(dapat dipecaya). Hamba sahaya dan orang fasiq tidak berhak untuk diserahi tugas dan amanah ini. Begitu juga tidak diutus kecuali orang yang faqih. Karena ini membutuhkan mana yang perlu diambil zakatnya dan mana yang tidak wajib diambil, serta membutuhkan sebuah ijtihad terhadap masalah-masalah yang muncul tentang zakat beserta hukum-hukumnya.1

12. PENUTUP

Demikian yang dapat penulis haturkan, semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Sudah semestinya kalau dalam tulisan ini terdapat beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. Dan dengan ini pula penulis memohon beberapa masukan dan kritik dari pembaca yang budiman.

والله أعلم بالصواب

DAFTAR PUSTAKA

1. Kamus kontemporer, Atabik Aliy Ahmad Zuhdi Muhdlor

2. Al Mughny, Ibnu Qudamah, Maktabah Riyadl Al haditsah th. 1981/1401 H.

3. Minhajul Muslim, Abu bakar al Jazairi Darul fikr Beirut

4. Fiqh Ibadah, Hasan Ayyub th. 1986/1406 H.

5. Al Fiqh Al Islamy, DR. Wahbah Zuhaily, Darul fikr, Beirut

6. Fiqh zakat, Yusuf qordlowi, Muassasatur risalah, Beirut, th. 1985/1405 H.

7. Zadul ma’ad, Ibnu Qoyyim, Muassasatur risalah, Beirut, Th. 1987/1407 H.

8. Taisir ‘alam Syarh Umdatul Ahkam, Abdulloh bin Abdir Rohman bin Sholih ‘Aly Bassan, Jamiyyah Ihya At Turots Al Islamy, Kuwait, th. 1994/1404 H.

9. Fathul bary, Ibnu Hajar Al Atsqolany Darul kutub al Ilmiyah, Beirut, th. 1989/1410 H.

10. Lu’lu’ wal marjan, Muhammad Abdul Baqy, Jamiyyah Ihya At Turats Al Islamy, Kuwait,

Th. 1994/1414 H.

11. Sunan Abi Dawud, Pustaka Dahlan Indonesia

12. Sunan Ibnu Majah, Pustaka Dahlan Indonesia

13. Nailul autar, Asy Syaukany, Darul fikr, Beirut, th. 1983/1403 H.

14. ‘Aunul ma’bud, Syamsul Haq Abady, Darul fikr, Beirut, th. 1979/1399 H.

15. Al Majmu’ Syarh Muhadldlab, Imam Nawawi, Darul fikr, Beirut, th. 1996/1417 H.

16. Kitab Fiqh ‘Ala Madlahib Al Arba’ah, Abdur Rohman al Jazairi, Darul kutub Al Islamiyah

17. Al As’ilah Wal Ajwibah Al Fiqhiyyah, Abdul Aziz Muhammad As Salman, th. 1412 H

18. Tamamul Minnah, Muhammad Nasiruddin Al Bany, Daru Royah, cet: 3 th. 1409 H


1 Al Asilah wa al ajwibah al fiqhiyyah Abdul Aziz Muhammad as salman hal, 2/73).

2 Fiqh Ibadah, Hasan Ayyub hal, 156 ).

3 Muttafaq ‘Alaih

4 Kitab fiqh ‘ala madhahib al arba’ah hal, 1/567)

1 Zad al ma’ad hal2/21,Sunan Abi Dawud hadits no. 1609 hal, 2/111, Sunan Ibnu Majah Hadits no. 1827 hal, 1/585

2 HR. Baihaqi dengan sanad yang dloif

3 Ensiklopedi wanita , Haya binti Mubarok Al barik hal, 66

4 Lihat Al Fiqh Islamy DR. Wahbah Az zuhaily hal,2/912

5 Muttafaq ‘alaih, Lu’lu’ wal marjan 1/237

6 Minhajul Muslim hal, 298

1 Taisir ‘alam Syarh Umdatul Ahkam hal,1/567, Fathul bary, Ibnu Hajar Al Atsqolany hal, 3/479

2 Zadul ma’ad Ibnu Qoyyim hal, 2/20

3 Nailul autar hal, 4/256

4 Al fiqh Al Islamy DR. Wahbah Az zuhaily hal 2/908.

1 QS. At Taubah : 60

2 Minhajul muslim hal, 298

3 Fiqh zakat DR. Yusuf Qordlowi Hal, 2/926

4 Ibid , Hal, 2/926

1 Fiqh zakat Yusuf Qordlowi hal 2/927

2 Kamus kontemporer, Atabik Aliy Ahmad Zuhdi Muhdlor hal, 1161

3 Fiqh zakat Yusuf qordlowi hal, 2/946

4 Al Fiqh Al Islamy, DR. Wahbah Zuhaily hal, 2/886

5 Al Fiqh Islamy DR.Wahbah Zuhaily hal, 2/878

1 fiqh IslamDR. Wahbah zuhaily hal, 2/911, dan lihat Al Mughny hal, 3/65

2 Al Majmu’ Syarh Muhadldlab, An Nawawy hal, 5/383

3 Minhajul Muslim Abu bakar al Jazairi hal 299

4 Al Fiqh Al Islamy DR. Wahbah Zuhaily hal, 2/ 888, Lihat Fiqh Ibadah, Hasan Ayyub Hal, 166

1 Fiqh Islam DR. Wahbah Zuhaily hal, 2/888, Lihat fiqh ibadah Hasan Ayyub hal, 166

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s