Kebangkrutan Lehman

Kebangkrutan Lehman dan Krisis Kapitalisme
Sabtu, 20-09-2008 | 08:24:43 WIB

Bursa-bursa utama dunia mengalami mengalami goncangan dan kejatuhan harga saham mereka setelah Bank Lehman Brothers pada hari Rabu 14 September 2008 resmi mengumumkan kebangkrutannya, dan mengajukan permohonan proteksi UU kebangkrutan USA pasal 11, yang memungkin perusahaan itu melakukan reorganisasi dan menyusun rencana untuk membayar kreditur dalam jangka waktu tertentu.

Kehancuran Lehman sudah berjalan sejak dimulainya krisis di pasar perumahan (subprime mortgage) Amerika Serikat pada Agustus 2007. CEO Lehman Brothers sendiri terpaksa mengambil langkah di atas karena mengalami kesulitan likuiditas dan gagal menemukan pembeli/investor yang mau mengambil alih perusahaan tersebut. Akibat pengajuan permohonan kebangkrutan ini, harga saham Lehman langsung terjun bebas.

Lehman Brothers mengumumkan kerugian $3,9 miliar antara Juni sampai Agustus, sedangkan angka kerugian sepanjang tahun ini mencapai $6,6 milyar. Saham Lehman turun menjadi $4,30 atau turun 76% sejak hari Senin 8/9/08. Dibanding harga sahamnya pada bukan November 2007, ketika saham Lehman mencapai $67,73, nilai saham Lehman sudah jatuh 94%. Harga saham Lehman Brothers per 15 September 2008 tinggal 30 sen/lembar (BBCINDONESIA.com).

Lehman menghadapi masalah pada kredit pada sektor perumahan dan disalokasi pinjaman menyatakan diri pailit, setelah 10 perusahaan yang berpatungan dan akan menyediakan dana talangan US$ 70 miliar gagal bernegosiasi untuk menyelamatkan bank investasi ini.

Kebangkrutan Lehman ini adalah yang terbesar dalam sejarah kepailitan di Amerika, jika dilihat dari sisi aset. Lehman memiliki aset senilai US$ 126 miliar. Bandingkan dengan perusahaan energi terbesar Enron, yang pailit beberapa tahun lalu karena rekayasa pembukuan, yang hanya memiliki aset US$ 81 miliar.

Pernyataan bangkrutnya Lehman Brothers hari Senin kemarin, langsung mengguncang bursa saham di seluruh dunia. Dalam pembukaan perdagangan hari Selasa (16/9), bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Asutralia, Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan antara 2 sampai 7 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, para investor di Bursa Wall Street mengalami kerugian besar, bahkan surat kabar New York Times menyebutnya sebagai kerugian paling buruk sejak peristiwa serangan 11 September 2001.

Indeks saham blue-chip Dow Jones Industrial Average jatuh di bawah 11.000 dengan merosot 4,42 persen menjadi 10.917,51. Indeks komposit Nasdaq menyusut 3,60 persen menjadi 2.179,91 dan indeks Standard & Poor`s 500 jatuh 4,71 persen menjadi 1.192,70. Di London, indeks FTSE 100 turun 3,92 persen menjadi 5.204,20 poin. Di Paris, indeks CAC 40 jatuh 3,78 persen menjadi 4.168,97 poin dan di Frankfurt, indeks DAX, menyusut 2,74 persen menjadi 6.064,16 poin. Indeks Euro Stoxx 50 dari saham-saham perusahaan terkemuka zona euro turun 3,67 persen.

Demikian pula di Taiwan anjlok 4,09%, Filipina anjlok 4,2%, Australia turun 1,8%, Singapura turun 2,26%. India anjlok 5,19%. Dan kemerosotan menular ke bursa Eropa. Sektor finansial menderita aksi jual besar-besaran, setelah Lehman mengumumkan kebangkrutan untuk melindungi asetnya dan memaksimalkan nilai (Detik.com).

Untuk Indonesia sendiri, turun 2,67%. Pada sesi pertama perdagangan hari tanggal 16/9/2008, IHSG rontok 77,960 poin menjadi 1.641,29, sementara indeks LQ45 turun 15,519 poin di level 323,78, dan JII ambruk 15,929 poin menjadi 248,68.

Selain tumbangnya Lehman, di sektor finansial juga terjadi pembelian Investment Bank Merrill Lynch oleh Bank of America dengan harga $50 milyar. Pembelian ini dilakukan oleh Bank of America sepenuhnya dengan menggunakan sahamnya.

Dengan tumbangnya Merrill Lynch dan Lehman Brothers mengikuti nasib Bear Sterns, maka berarti dari 5 Investment Bank terbesar di Amerika, 3 di antaranya telah tumbang, dan yang tersisa hanyalah Goldman Sachs dan Morgan Stanley.

Mantan Kepala Federal Reserve Alan Greenspan mengatakan, krisis keuangan yang terjadi di AS merupakan krisis keuangan terburuk yang pernah ia saksikan dan masih berlangsung dalam jangka waktu lama. Ia meyakini krisis ini akan makin mendalam yang bisa mengakibatkan resesi ekonomi di AS. “Kemungkinan AS bisa lolos dari resesi ekonomi sangat kecil, di bawah 50 persen, ” kata Greenspan dalam wawancara dengan ABC News hari Minggu kemarin.

‘Kerusuhan’ di sektor finansial ini sendiri tidak terhenti di Merril Lynch dan Lehman Brothers saja. Beberapa nama besar di sektor finansial lainnya juga dikaitkan dengan berita ‘miring’. AIG (perusahaan asuransi) dan Washington Mutual (perusahaan Savings & Loan) adalah dua nama yang kini menjadi fokus perhatian banyak orang.

Lehman adalah salah satu bank penyalur kredit pemilikan rumah (KPR) yang memiliki atau menjamin hampir separuh dari total kredit perumahan di AS. Pasar perumahan di AS sedang dalam krisis karena penurunan sektor perumahan terdalam pada satu dekade.

Menyandang status sebagai bank investasi terbesar keempat di AS dan sudah kesohor ke belahan dunia manapun, dipenuhi dengan karyawan-karyawan cerdik, licik dan agresif, tapi tak mampu menahan gelombang keruntuhan di pasar keuangan. Dampak paling nyata dari bangkrutnya Lehman Brothers adalah meningkatnya jumlah pengangguran di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Di seluruh dunia, jumlah pegawai jaringan perusahaan Lehman Brothers mencapai 25.000 orang. Pada bulan Agustus 2008, Lehman sudah mengumumkan akan memecat 5 persen dari jumlah pegawainya atau sekitar 1.500 orang.

Pada akhirnya, situasi ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada lembaga keuangan termasuk pada pemerintah dengan sistem perekonomian neo-liberalnya yang ternyata rapuh. Sebuah gambaran yang tragis bagi sebuah imperium bernama AS, yang selalu sesumbar dengan sistem perekonomian kapitalis yang disebarkannya ke seluruh dunia, ternyata tak mampu menolong perekonomian di negerinya sendiri ketika terancam kebangkrutan.

Apa yang terjadi pada Lehman dan Merrill Lynch di hari ini hampir bisa dipastikan mempunyai dampak bagi perekonomian di seluruh dunia. Selain goncangan di bursa efek lokal di negara yang bersangkutan, kemungkinan akan terjadi “ Flight to safety” yaitu timbulnya aliran dana besar yang ‘terbang’ dari investasi yg beresiko pindah mencari instrumen ‘aman’, seperti obligasi pemerintah. Sudah menjadi sifat alami ‘investor’ bahwa ketika kondisi di pasar sangat mengkhawatirkan, kebanyakan orang akan lari ‘mencari aman’.

Bagi Indonesia , jika Flight to Safety ini benar terjadi, sebagian investor asing akan keluar dari bursa untuk sementara waktu.  Namun, mereka masih bertahan di Indonesia dan mengalihkan sebagian portofolio ke pasar uang, Surat Utang Negara (SUN), dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Mereka menilai, bursa AS belum juga stabil. Investor asing tetap menilai pasar uang dan surat utang di Indonesia cukup menarik sebagai alternatif portofolio saham.

Asal tahu saja, kepemilikan asing di surat utang terus melambung. Porsi asing di SUN per 8 Agustus 2008 mencapai Rp 104,7 triliun atau 19,6% dari total SUN. Sedangkan kepemilikan asing di SBI per 4 Agustus mencapai Rp 65,6 triliun atau 37,5% dari outstanding sebesar Rp 149,9 triliun. Dibandingkan pekan lalu, dana asing di SBI meningkat Rp 980 juta ( Kontan.com).

Aksi tersebut tidak hanya dilakukan oleh investor asing, namun juga investor lokal, baik kelompok ritel maupun manajer investasi pengelola reksa dana. Investor beramai-ramai melepas saham berbasis komoditas. Dana hasil penjualan saham itu dipersiapkan untuk membeli ORI atau SUN yang akan diterbitkan dalam waktu dekat.

KERUSAKAN KAPITALISME

Kapitalisme modern saat ini dibangun dengan non real based economy (ekonomi berbasis sektor non riil). Artinya, kapitalisme dominannya bermain dalam investasi spekulatif melalui sektior non riil (keuangan), misalnya melalui kredit perbankan serta jual beli surat berharga seperti saham dan obligasi (Harahap, 2003). Dalam ekonomi berbasis sektor moneter/keuangan inilah, kapitalisme tidak dapat dilepaskan dengan bunga (riba).

Kapitalisme telah melahirkan sejumlah “kebijakan destruktif ” yang kemudian dijajakan oleh Barat, terutama Amerika Serikat ke berbagai negara di dunia. Kebijakan tersebut nyaris diadopsi oleh sebagian besar negara di dunia termasuk di dalamnya negeri-negeri Islam.

Salah satu kebijakan tersebut adalah Kebijakan Pasar Modal. Pasar modal berupa pasar-pasar saham, surat berharga, dan mata uang. Pasar ini menjadi alat kriminal para investor raksasa untuk meraup keuntungan besar tanpa investasi yang riil. Kegiatan perekonomiannya bertumpu pada sektor ekonomi non-riil, yang pijakannya terletak pada kompetisi tidak seimbang yang mirip dengan perjudian, undian, dan penipuan.

Saat ini, perdagangan di sektor non-real ini telah sedemikian jauhnya, sehingga nilai trasanksinya berlipat ganda melebihi nilai sektor real. Hampir semua negara di dunia ini terjangkit bisnis spekulatif seperti perdagangan surat berharga/utang di bursa saham (stock exchange) berupa saham, obligasi (bonds), commercial paper, promissory notes, dsb.; perdagangan uang di pasar uang (Money market); serta perdagangan derivatif di bursa berjangka. Sistem ekonomi non riil ini berpotensi besar untuk meruntuhkan sistem keuangan secara keseluruhan.

Bursa saham yang merupakan barometer aktivitas perkonomian suatu negara tidak lebih dari sekedar arena kasino yang penuh berisi aktivitas seperti perjudian spekulasi. Dan spekulasi itulah dulu yang mengambrukkan pasar saham AS pada tahun 1929 yang menimbulkan depresi besar- besaran selama kurang lebih 10 tahun. Dan kini kondisi itu terulang kembali.

Walhasil, Kapitalisme menunjukkan kerapuhannya dalam menopang ekonomi dunia. Kerapuhan itu berlangsung tidak hanya di negara-negara miskin dan berkembang, tapi juga di negara-negara maju yang menjadi pengusung ideologi tersebut.Dan kapitalisme dengan ekonomi sektor non riilnya terbukti tidak mampu menyejahterakan umat manusia. Bangunan ekonomi spekulan itu hanya menguntungkan kalangan pemilik modal dan kaum borjuis. Oleh karena itu, agar terhidar dari kehancuran yang lebih besar, sudah saatnya kita harus melepaskan diri dari jerat kapitalisme global.

Masalahnya, ketika sistem kapitalisme menuju kehancuran, sistem sosialisme sudah terkubur mati, maka sistem mana yang akan di pilih. Tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada sistem Islam, sebuah sistem yang berasal dari Yang Maha Haq dan Yang menciptakan manusia yang akan sesuai dengan fitrah manusia. Wallahu a`lam

Oleh :Hady Sutjipto.SE.M.Si

Lajnah Mashlahiyah Hizbut Tahrir Indonesia

Sumber : http://www.hizbut-tahrir.or.id

One response

  1. Salam pembebasan,

    Tragedi!

    Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

    It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

    Silah kunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s