“Lastri” Gak Boleh Karena Ada Muatan Komunis

LASTRI, sebuah judul film yang disutradarai Eros Djarot ditentang oleh beberapa Ormas Islam di Jawa Tengah karena mengandung faham komunisme. Film yang mengambil lokasi syuting perdana di Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar sejak Jum’at (13/11) terus didemo masyarakat. Pihak Kecamatan melihat kejadian ini berinisiatif mempertemukan kedua belah pihak pada Sabtu (15/11) di kecamatan setempat. Awud selaku Ketua Hizbullah Bulan Bintang usai membaca sinopsis film merasa yakin unsur yang dapat membangkitkan komunisme ada di dalam film Lastri. Sedangkan Khoirul RS, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Solo, mewakili Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) mengatakan jika syuting masih dilanjutkan di Solo, maka pihaknya tidak akan bertanggungjawab apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak.

Rencana pengambilan gambar film berjudul Lastri, Suara Perempuan Korban Tragedi Tahun 1965 yang mengambil lokasi di Pabrik Gula (PG) Colomadu, Karanganyar, menuai protes dari masyarakat setempat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Espos dari sejumlah narasumber, Kamis (13/11), kabar rencana pengambilan gambar film karya Ita F Nadya yang dibintangi oleh sejumlah artis perfilman seperti Marcella Yalianti, Tio Pakusadewo dan Iga Mawarni tersebut telah beredar di wilayah Karanganyar, sejak awal November 2008 lalu.

Namun pengambilan gambar film yang sedianya akan dilakukan pada Rabu (12/11), terpaksa dibatalkan lantaran banyaknya penolakan warga yang menilai film arahan Eros Djarot itu sarat dengan nuansa politik ala orde lama, yang dikhawatirkan akan berimbas pada munculnya ajaran-ajaran Komunis di Indonesia.

Diakui Kepala Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Parjoko, kendati telah menerima kabar bahwa pengambilan gambar film akan dilakukan di wilayahnya, pihaknya belum dimintai izin terkait pelaksanaannya dan belum pernah diberikan pemberitahuan atas pelaksanaan tentang rencana tersebut.

“Bagaimana pun, wilayah Desa Malangjiwan adalah wilayah kami dan yang bertanggung jawab terhadap masalah situasi dan kondisi tenteram, setidaknya menjadi tanggung jawab kami. Sehingga kami memohon dengan segala kerendahan hati agar Pj Bupati Karanganyar tidak menyetujui dan tidak mengizinkan pelaksanaan shooting film tersebut di PG Colomadu,” ujar Parjoko dalam laporannya yang ditujukan kepada Pj Bupati Karanganyar.

Pernyataan senada dikemukakan Ketua Legiun Veteran Ranting Kecamatan Colomadu, Warigit. Diungkapkan Warigit, kalangan veteran juga tidak menyetujui adanya pembuatan film yang mengambil setting masyarakat di wilayah Colomadu.

“Film itu hanya akan mengungkit-ungkit ajaran PKI dengan berbagai peristiwa yang berkaitan partai terlarang tersebut. Sebab, tokoh Lastri yang diangkat dalam film itu merupakan salah satu tokoh Gerwani atau CGMI yang dieksekusi oleh warga Solo. Kalau sampai filmnya dibuat namun titik beratnya hanya soal korban-korban 1965, tentu yang muncul adalah upaya mendiskreditkan bangsa Indonesia, khususnya warga Solo. Sehingga kami dari kalangan veteran dan pejuang tidak setuju film tersebut dibuat di wilayah Colomadu,” papar Warigi

Menanggapi hal tersebut Eros Djarot menyatakan mohon maaf jika syuting ini membuat warga resah. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa di filmnya ini ia hanya ingin mengangkat nilai percintaan, kasih dan kelembutan yang sudah banyak ditinggalkan di film-film lain. Saat ini, film Indonesia mengedepankan seks dalam drama pencintaannya.

Namun permintaan maaf saja tidak cukup, karena yang diinginkan masyarakat adalah film itu dihentikan. Khoirul dan massa ormas Islam tetap menolak syuting film itu dilaksanakan di Solo dan sekitarnya. Dia menganggap ada bau politik yang menyeruak dalam syuting itu. Bukan hanya Ormas Islam saja yang menentang film ini, Ketua Presidium Front Anti Komunisme Surakarta, Mudrick Sangidoe menyatakan pembuatan film yang disinyalir mengandung muatan komunis itu harus dihentikan. Mudrick juga meminta pemerintah, anggota legislatif dan masyarakat untuk memiliki kepekaan yang lebih terhadap kasus ini dan secara bersama-sama menentang segala bentuk komunisme.

Mudrick mengaku telah menghubungi pihak-pihak terkait untuk membahas masalah tersebut.
”Kalau ternyata benar memuat ajaran komunis atau terjadi pemutarbalikan fakta tragedi ‘65, maka sudah semestinya masyarakat menentang. Apalagi di Solo sendiri pada bulan Oktober tahun 1965 pernah terjadi tragedi PKI. Yaitu 17 orang dibantai oleh PKI. Kalau pembuatan film itu terus berlanjut dan ternyata benar-benar bermuatan komunis, pihak terkait yang terlibat pembuatan film harus bertanggung jawab kalau nantinya akan ada perlawanan dari masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Kapoltabes Solo Kombes Pol Ahmad Sukrani melalui Kasat Intelkam Poltabes Solo Kompol Jaka Wibawa, mengatakan, kalau materinya dalam film berbeda dengan di lapangan. Hal itu, diketahui setelah klarifikasi ke Mabes Polri. “Izin awalnya percintaan, tapi ditemukan di lapangan berbeda dan ada nuansa semacam itu. Terpaksa kita belum bisa memberi izin, ” katanya.

source: solopos/suaraislam

7 responses

  1. assalamualaikum wr wb
    numpang baca2 yah mas,
    liat dari kontroversi nya kayanya menarik banget nih film, jadi pengen ntn kaya gimana sih setting 65 waktu jaman nya PKI
    googling2 susah banget cari sumber yang bisa di liat
    btw nice blog.
    wassalam

  2. Oh come on. Just because what they did was despicable doesn’t mean we get to be prejudice about communism. Indonesia needs to be more objective and mature in things like politics. Be an adult and forgive what has happened in the past, isn’t that what a muslim should do?

  3. saya mempunyai pandangan yang agak berbeda terhadap kontroversi berkaitan dengan film “Lastri”. menurut saya, pihak yang melakukan penolakan terhadap film ini terlalu memandang pesimis terhadap kekuatan seorang manusia. sangkanya manusia itu lemah pikir dan lemah iman hingga lemah pulalah pendirian. oleh karena itu, ditutuplah semua pintu jalan masuknya segala informasi, hingga diri di dalam ruang merasa aman, nyaman, dan terkendali. walaupun toh tidak dapat tidur nyenyak merajut mimpi, karena diri terduduk di sudut gelap kamar dengan mata awas memandang ke segala penjuru. bertanya-tanya dimanakah sang musuh berada atau seperti apakah rupanya.
    Haji Agus Salim pernah berkata bahwa hanya karena kita tidak melihat musuh, bukan berarti musuh itu tidak ada. oleh karena itu, beliau mempelajari komunisme hingga pada suatu titik dimana beliau menyadari bahwa komunisme sudah menyimpang dari ajaran inti marxisme. hal ini disebabkan seiring dengan perjalanan sejarah, suatu ideologi –seperti juga sejarah itu sendiri sering dibelokkan ke arah yang sesuai dengan hasrat penguasa.
    pesan moral dari Haji Agus Salim adalah bahwa bukankah mengetahui bukan selalu berarti mematuhi?; bukankah mengetahui dapat digunakan sebagai alat untuk mengenali musuh kita sehingga dapat memberikan ilham tentang cara menghadapi sang musuh?; bahwa otonomi kita sebagai manusialah yang menentukan bagaimana kita mengelola informasi yang datang kepada kita.
    kita lupakan sejenak tentang ajaran yang “dianggap” diusung oleh film ini, dan memfokuskan kembali kepada film tersebut. berkali-kali ditegaskan oleh sang sutradara bahwa film ini hanya menggunakan isu komunisme sebagai alat untuk mencapai tujuan yang sebenarnya. bahwa kompleksitas dari cerita film ini digunakan untuk membimbing pemirsa menuju ke inti pesan moral dari film ini. kompleksitas yang sama seperti ketika anda mencintai anak dari musuh ayah anda, seperti dalam romeo dan juliet; atau ketika anda menyadari bahwa ayah anda rela menyamar menjadi wanita tua pengasuh anak hanya karena ingin selalu berada dekat anda dan saudara-saudara anda, seperti dalam film mrs. doubtfire; atau ketika anda menyadari bahwa ayah anda adalah juga musuh anda, seperti dalam kisah robert anak surapati. kompleksitas-lah yang membuat suatu film menjadi menarik. anda tidak ingin menonton suatu film yang menggambarkan perilaku sehari-hari seorang pemuda yang melakukan hal yang sama setiap hari pada waktu yang sama, bukan?
    peristiwa PKI dan hal-hal yang berkaitan dengannya sudah berlalu begitu lama. sudah saatnya kita memandang segala yang berhubungan dengan hal tersebut secara jernih, alih-alih emosional. bahwa masa-masa kelam yang dialami oleh keluarga korban PKI atau keluarga pihak yang “diduga” berafiliasi dengan PKI merupakan sejarah. sejarah itu ada untuk dimaknai. jadi marilah kita membuka segala pintu dan jendela kita lebar-lebar. kita sudah terlalu lama dicekam ketakutan. ketakutan yang berlarut bisa berakibat kebencian.

  4. kenapa qt ga mao coba untuk belajar. saya rasa film ini menawarkan informasi baru tentang kejadian pada masa itu. kalau memang qt ga setuju ya itu hak qt, tapi tidak dengan mengganggu kepentingan org laen yang ingin mengetahui cerita tsb. biarkanlah film itu berlanjut, tinggal qt tunggu aja seleksi alam

  5. Maaf ya kalau saya punya pandangan lain.
    Bukankah sudah banyak karya-karya yang memuat tentang ideologi komunisme,baik dalam karya sastra buku ataupun yang lainya,tapi dalam pandangan saya adanya semua bentuk karya ini bukan berarti untuk menghidupkan kembali ideologi komunis,melainkan untuk menguak tabir sebuah sejarah yang hilang,sejarah tak seharusnya di tutup-tutupi agar sejarah tidak menjadi tabu yang bisa berakibat kebutaan fakta sejarah pada generasi muda hingga menutup diri untuk menerima kenyataan tentang catatan hitam pada sebuah bangsa,sudah cukup lama kita di bohongi kini saatnya membuka mata untuk menerima kenyataan ini sebagai catatan hitam sejarah bangsa. OK..kan… Berlanjut tidak dan pantas atau tidaknya film ini beredar ke publik,bukahkah sudah ada lembaga sensor yang harus di lewati? Gitu aja koq repot,he..he..he…

  6. memang sebagai warga awam yang kurang mengerti tentang makna film yang ingin diangkat,namun ini sangat menggugah bagi saya berkomentar.
    bilamana film ini banyak meresahkan warga masyarakat indonesia memang sangatlah tepat jika dihentikan segera dan tidak pernah terbuat dalam sejarah film indonesia.
    karna sebagai warga indonesia yang hidup di jaman kemerdekaan,tentang fakta yang pernah terjadi para veteranlah yang tau jelas sejarahnya.jika mereka telah berpendapat bahwa film itu akan sangat meresahkan dan membuat ketidakharmonisan di indonesia,maka kita dukung untuk tidak akan pernah sukses dalam pembuatannya.

    ini koment saya,jika ada yang tidak berkenan saya mohon maaf.dengan tidak bermaksud menyinggung siapapun.hanya sebuah uneg2 aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s