Derita Muslim Minoritas di India

serangan mumbay

serangan mumbay

Beberapa hari ini dunia dihebohkan dengan pemberitaan serangan terhadap beberapa hotel dan tempat umum di Mumbay, India.

Dalam beberapa kabar, disebutkan bahwa Decca Mujahidin bertanggung jwab dalam aksi ini. Tentunya, sebagai muslim, kita mempertanyaan keabsahan berita ini. Tentu juga mengapa mereka melakukan aksi ini( jika benar mereka pelakunya). Mereka(jika benar) menuntut pembebasan pejuang2 Islam yang ditahan pemerintah India.

Kalaupun itu benar mereka pelakunya tentunya ada alasan-alasan mengapa mereka melakukan hal sebesar itu.  Dalam situs HTi Indonesia diceritakan, bagaimana penderitaan Muslim India yang begitu menderita atas perlakuan orang-orang kafir dan juga pemerintah India sendiri pada mereka. Berikut isi ulasan tersebut:

Lebih kurang 2000 muslim dibunuh, diperkosa dan dibakar hidup-hidup dalam kerusuhan di Gujarat India Februari 2002 .Dimana dunia saat itu ?

Masjid Babri di Ayodhya dihancurkan oleh militan Hindu pada 1992 , dimana dunia saat itu? (jeritan muslim India)

Pasang-Surut Muslim India

Sejarah
Muslim India memang mengalami pasang-surut. Masuknya Islam di Benua
India India terjadi pada masa pemerintahan Kholifah Umayyah, yang
mengirimkan tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad bin
Qasim al Tasqafiy pada 93 H atau 712 M. Namun sebenarnya, sebelum
mengirimkan tentaranya ke India, hubungan antara India dan Negara
Islam, sudah terjalin dakwah Islam ke India sejak masa Rasulullah.

Dalam
buku Islam in India, Prof. Husayin Nairar menceritakan bahwa Maharaja
Malabar bernama Kheraman Perumal yang memerintah daerah India Selatan,
dari Kanjorakot sampai Tanjung Comorin, telah berangkat ke Arabia dan
mendapat kehormatan menemui Rosulullah Saw. Sewaktu pulang kembali ke
India, dia membawa tiga orang sahabat nabi sebagai utusan dakwah ke
India (muballigh). Yaitu, Syarif bin Malik, Malik bin Dinar, dan Malik
bin Habib. Di tangan mereka inilah berkembang dakwah Islam di India
Selatan. Sayang sekali, Maharaja itu telah berpulang ke rahmatullah di
tengah perjalan yaitu di Zafar.

Berikutnya, langkah
perang (jihad) terpaksa dilakukan mengingat begitu kerasnya , raja-raja
Hindu menghalangi dakwah Islam di India. Kefanatikan mereka terhadap
kemusyrikan sungguh luar biasa. Setelah futuhat, kekuasaan Islam di
sana sangat terorganisasi hingga berhasil mendirikan kesultanan di New
Delhi. Namun, kesultanan itu diambil-alih Dinasti Moghul pada abad
ke-16. Kekuasaan dinasti keturunan Timur Lenk ini berakhir di tangan
Inggris pada 1757. Lebih dari seabad, wilayah tersebut dikuasai
Inggris. Tuntutan untuk memisahkan diri dari India yang dimotori
Muhammad Ali Jinnah mengkristal pada 1940 dengan dibentuknya Liga
Islam. Baru pada 1947 Pakistan—yang semula bagian dari India—diakui
menjadi negara tersendiri sebagai dominion dalam Persemakmuran Inggris.

Meskipun Islam belum menjadi agama mayoritas di Benua India, Islam pernah memerintah di sana. Selama era Islam
di India, kondisi umat Islam dan kelompok-kelompok non-Muslim jauh
lebih baik. Memang, tidak semua penguasa pada era Islam di India memerintah
dengan baik. Di antara mereka, ada juga yang menyimpang dari syariah
Islam dan bertindak lalim terhadap rakyatnya. Bagaimanapun,
pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang dijalankan oleh manusia,
yang bisa saja keliru. Di situlah letak peran rakyat , terutama ulama
dan partai politik, untuk melakukan koreksi terhadap penguasa-penguasa
yang menyimpang.

Namun demikian, yang jelas, berdasarkan
sejarah, tidak bisa dipungkiri, bahwa selama era Islam masyarakat India
mengalami peningkatan peradaban yang luar bisa. Pengaruh Islam terhadap
Benua India (termasuk India sendiri ) sangat besar.

Kehadiran Islam berpengaruh terhadap seluruh tatanan kehidupan orang-orang Hindu yang musyrik dan jahiliah. Pada
era Islam, terdapat kebangkitan berbagai aspek kehidupan, ekonomi,
pendidikan, politik, dan lainnya. Kehadiran Islam di India juga telah
mendorong meningkatnya perdagangan yang tadinya lokal menjadi lebih
global. Lewat pedagang-pedagang Muslim, perdagangan India menyebar ke
Timur Tengah, Mongolia, dan Indonesia di Asia Tenggara. Seiring dengan berkembangnya perdagangan internasional, penyebaran dan peningkatan sains dan teknologi juga meningkat. Penemuan kincir
angin ,yang pada masa itu termasuk teknologi canggih, terjadi pada era
Islam. Penggunaan ubin keramik dalam berbagai kontruksi bangunan di
India di pengaruhi oleh arsitektur di Irak, Iran, dan Asia
Tengah. Barang pecah-belah (yang terbuat dari tanah) banyak diadopsi
dari Cina yang dibawa oleh penguasa Mughal. Pada masa pemerintahannya,
Sultan Abidin (1420-1470) mengirim pekerja-pekerja yang ahli ke Samarqand untuk mempelajari penjilidan dan penggunaan kertas.

Pada era Islam jugalah berkembang kota-kota industri
yang terkenal hingga saat ini. Khurja dan Siwan terkenal dengan
industri tembikarnya, Morabadad dengan benda-benda yang terbuat dari
kuningan, Mirzapur dengan karpetnya, Firozabad dengan benda-benda
gelas, Farrukhabad dengan industri percetakannya, Sahranpru dengan
ukiran kayunya, Srinagar dengan ‘papier mache’ (hasil industri yang
terbuat dari bubur kertas), dan lain-lain.

Dari
segi bahasa, pengaruh bahasa Arab (sebagai bahasa Islam) memunculkan
bahasa Urdu. Bahasa ini mempunyai nahu Prakrit dengan perbendaharaan
kata Parsi, Arab, dan Turki. Ia ditulis dengan skrip Arab tetapi diubah
untuk mewakili bunyi bukan Arab. Contoh-contoh perbendaharaan kata
Urdu: wajib, munsyi, dll.

Pengaruh
Islam juga tampak dari teknologi bangunan yang mengalami perkembangan
yang pesat pada zaman Mughul. Ini tampak, misalnya, pada Gedung Kabuli
Bagh di Panipat, Masjid Jami’ di Sambal dan sebuah masjid di Agra. Shah Jahan merupakan ahli bangunan yang terkenal. Salah satu karyanya adalah bangunan Taj Mahal yang banyak dipengaruhi konsep dan gaya Islam

Namun
demikian, masa kegemilangan tersebut berubah menjadi penderitaan saat
era Islam berakhir dan penjajah Barat masuk ke India. Diawali dengan
masuknya The British East Company (1600- 1858), Inggris mulai melakukan penjajahan di India. Inggris
kemudian membentuk pemerintahan kolonialnya di India (1858-1947).
Seruan jihad pun dilakukan oleh kaum Muslim di India untuk mengusir
Inggris.

Penderitaan
pun terus berlanjut pasca kemerdekaan India (1947) . Pemerintahan
nasional India, yang didominasi oleh Hindu, melakukan berbagai bentuk
diskriminasi terhadap umat Islam. Hal ini membuat beberapa
elit politik Muslim kemudian memisahkan diri dari India dan membentuk
Pakistan. Sayang, pemisahan ini ternyata tidak menyelesaikan berbagai
penderitaan umat Islam di sana. Pakistan ternyata menjadi pemerintahan
sekular dan didominasi oleh militer yang banyak menyengsarakan
rakyatnya.

Pembantaian Massal oleh Hindu Militan

Sulit
dipungkiri, ada upaya dari negara Hindu itu untuk menutupi pembantaian
massal mereka terhadap umat Islam di Gujarat. Seperti yang banyak
dilaporkan, sejak terjadinya kerusuhan di Gujarat Februari 2002, ribuan
kaum Muslim terbunuh, diperkosa, dan dibakar hidup-hidup. Hingga saat
ini, banyak di antara mereka yang masih tinggal di kamp-kamp pengungsi
dengan kondisi sangat menyedihkan. sebagai negara demokrasi terbesar di
dunia, sekaligus bertentangan dengan ajaran Gandi tentang ajaran
ahimsa; perjuanganan tanpa kekerasan. Ironisnya, Gujarat merupakan
tempat Mahatma Gandhi lahir.

Disamping,
pembantaian di Khasmir yang kunjung berhenti hingga saat ini, salah
satu peristiwa yang sangat menyakitkan umat Islam adalah penghancuran
Masjid Babri di Ayodhya oleh militah Hindu pada 1992. Penghancuran
Masjid Babri ini telah memicu tewasnya ribuan kaum Muslim yang dengan
gagah berani berusaha mempertahankan masjid Allah tersebut.
Penghancuran masjid ini dimotori oleh Partai Bharatiya Janata (BJP)
pimpinan Athal Bihari Fajpaye saat itu  berkuasa di India. Tidak
berhenti sampai di sana, hingga saat ini, ekstremis Hindu tetap
‘ngotot’ untuk membangun kuil di atas reruntuhan Masjid Babri tersebut.
Para Hindu ekstremis tetap ingin membangun kuil meskipun pemerintah
India telah melarang. Ada kesan, pemerintah India hanya berpura-pura
melarang, karena mereka tidak melakukan tindakan yang tegas kepada
kelompok Hindu. Dengan kesombongannya, Asywak Sinagal,
kepala kelompok Fisywa Hindu, menyatakan di hadapan pers bahwa
kelompoknya akan tetap bertekad melanjutkan rencana mendirikan kuil di
Ayodhya.

Memang
sangat mengherankan, bagaimana dunia diam terhadap pembantaian kaum
Muslim di Gujarat baru-baru ini. Amerika Serikat,yang sering
berkoar-koar tentang HAM, juga tidak banyak berbuat. Padahal, dari
bulan 28 Februari, gerombolan orang-orang Hindu membunuh sedikitnya
2000 Muslim di seluruh Gujarat.

Mayat yang hangus terbakar dan beberapa orang Muslim yang selamat dengan terluka, membuktikan
bahwa orang Muslim dibakar hidup-hidup secara sistematis oleh orang
Hindu. Berdasarkan laporan dari banyak saksi mata yang bisa
dipertanggungjawabkan, wanita Muslim dan anak-anak perempuan diperkosa
beramai-ramai dan kemudian dibakar hidup-hidup atau dipotong
bagian-bagian tubuhnya untuk menyembunyikan bukti. Bahkan, para wanita
Muslim yang sedang mengandung dibelah perutnya saat dia masih hidup.
Dia kemudian menjadi saksi kematian bayi yang dikandungnya, sebelum dia
sendiri meninggal dunia. Orang-orang Hindu dipersenjatai dengan senjata
yang mematikan. Orang-orang Hindu juga diberikan data ‘intelijen’ yang
rinci seperti daftar nama pemilih dan data harta milik orang-orang
Islam. Dengan itu, mereka bisa menghancurkan harta kekayaan milik orang
Muslim secara selektif tanpa menyentuh milik orang Hindu.

Keterlibatan Pemerintah

Smita
Narula, seorang peneliti senior untuk Human Rights Watch, berkata pada
30 April, “Apa yang terjadi di Gujarat bukanlah muncul secara spontan,
tetapi telah dirancang demikian teliti untuk menghancurkan kaum Muslim.
Serangan ini direncanakan terlebih dulu dan digerakkan dengan
keterlibatan yang luas dari polisi dan pejabat pemerintah.”

Sebenarnya,
pembunuhan besar-besaran dirancang secara sengaja oleh pemerintahan
Vajpayee. Beberapa bukti menunjukkan hal ini. Seperti yang dikutip oleh
Eramuslim.com (13/3/2002) koran harian Kolkata, The Telegraph,
menerbitkan suatu laporan detil tanggal 10 Maret yang ditulis Sujan
Dutta, korespondennya di Ahmedabad. “Kerusuhan berdarah di Gujarat
sebagai bagian dari gelombang pembunuhan terhadap penumpang kereta api
di Godhra tanggal 27 Februari, tidak hanya secara diam-diam didukung
oleh pemerintah pusat, tetapi juga oleh menteri kepala Narendra Modi.
Modi memberi VHP jaminan waktu 24 jam untuk merancang makar pembantaian
itu,” ujar Dutta.

Beberapa
bukti keterlibatan Pemerintah India, antara lain: Pertama, berkenanan
dengan Insiden Ghodra yang menjadi pemicu kerusuhan ini, meskipun di
stasion kereta api Godhra terdapat pos polisi, dengan polisi bersenjata
dan memiliki fasilitas komunikasi yang bagus untuk diminta
pertolongannya, tidak ada yang berupaya untuk mencegah kejadian ini
(serangan terhadap Kereta Api Sabarmati Express). Pada 27
Februari 2002, orang Hindu sedang kembali dari Ayodha dengan
menggunakan kereta api. Sebelumnya, mereka ikut dalam sebuah reli
anti-Muslim yang berhubungan dengan Masjid Babri. Saat mereka pulang,
mereka mencela orang-orang Islam dan menolak membayar kepada pedagang
Muslim. Bahkan, seorang Hindu menyeret seorang Muslimah ke kereta api.
Namun, polisi tidak melakukan tindakan sama sekali.

Kedua,
kementerian negara Hindu mengambil langkah segera dan sengaja untuk
menjadikan isu tersebut menjadi perang terhadap orang-orang Islam. Pada
tanggal 27 Pebruari, sehari setelah peristiwa Ghodhra, menteri
kesehatan negara pergi sendiri ke kantor polisi di Ahmedabad dan
memerintahkan polisi untuk tidak menyelamatkan orang-orang Islam.

Lebih
jauh lagi, para saksi mata melaporkan, menteri-menteri negara ikut
langsung memimpin massa Hindu untuk menyerang orang-orang Islam.

Sementera
itu, Kepala Kementerian Negara Narenda Modi mengeluarkan pernyataan
yang menghasut dan membenarkan pembantaian tersebut. Pada 1 Maret 2002,
dia berkata, “Setiap tindakan mempunyai keseimbangan aksi dan reaksi.”

Ketiga, polisi negara Gujarat juga ikut terlibat aktif dalam penyerangan terhadap kaum Muslim. Saksi mata yang selamat dan meminta pertolongan polisi mendapat jawaban, “Kami tidak diperintah untuk menyelamatkan kamu!”

Para
saksi mata juga melaporkan, polisi hanya berhenti dan menyaksikan
pembununuhan tersebut, bahkan ikut terlibat dalam gerombolan massa
Hindu yang mengamuk. Pada 28 Februari di Ahmedabad polisi
ikut membunuh kaum Muslim, meskipun saat itu minoritas Muslim menjadi
sasaran serangan gerombolan Hindu yang bersenjata. Komisaris Polisi
Ahmedabad secara terbuka menyatakan permohonon maaf anggotanya yang
ikut terlibat, “Polisi juga dipengaruhi oleh sentimen massal pada waktu
itu.”

Keempat,
pemerintah pusat juga secara penuh berada di belakang pemerintah negara
bagian yang melakukan pembantai terhadap kaum Muslim. Pada saat itu,
BPJ sedang menghadapi kekalahan dalam beberapa pemilu di negara bagian
Uttar Pradesh, Uttrancahal, Punjab, dan Manipur. BJP telah menggunakan
isu Masjid Babri untuk memunculkan sentimen rasial orang-orang Hindu.
Apa yang terjadi di Gujarat merupakan perluasan dari
strategi ini. Jadi, untuk memenangkan pemilu, BPJ telah membunuh kaum
Muslim. Vajpayee sendiri memberikan komentar sinis kepada kaum Muslim
seperti dalam ulasannya di Panaji Goa 12
April, “Di manapun terdapat orang Islam, mereka tidak ingin hidup
bersama dengan orang lain (atau yang berbeda kepercayaan). Dari pada
hidup damai, mereka ingin berkhutbah dan menyebarkan agama mereka
dengan menciptakan teror pada pemikiran lain.”

Inilah yang secara konsisten dilakukan oleh negara Hindu terhadap kaum muslimin di India lebih dari 50 tahun. Untuk itu, negara Hindu ini bersekutu dengan musuh kaum Muslim yang lain seperti Israel (Yahudi) dan Amerika Serikat. Mahabenar Allah dalam firman-Nya:

]لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ ءَامَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا[

Sesungguhnya
kamu pasti akan mendapati orang-orang yang paling keras permusuhannya
terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan
orang-orang musyrik.
(QS al-Maidah [5] : 82). [rmd/hti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s