Kampanye AIDS Yang Bikin Ruwet

no more aids, no free sex-nokondom

no more aids, no free sex-nokondom

Entah apa yang ada di otak para menteri kesehatan seluruh dunia ketika menetapkan 1 Desember sebagai hari AIDS sedunia. Yang jelas,  hingga kini, setiap 1 Desember di seluruh negara diperingati Hari AIDS. Termasuk di Indonesia.  Macam-macam bentuk dan cara memperingatinya.

Seakan tidak mau ketinggalan, hampir seluruh lapisan masyarakat, dari pekerja seks komersil (PSK), aktivis LSM, pelajar sekolah, mahasiswa, masyarakat biasa hingga pemerintahan memperingatinya.

Di Surabaya, diadakan pembagian bra (BH), celana dalam dan kondom untuk untuk para PSK. Hal senada juga dilakukan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kota Palembang, yakni membagikan kondom untuk perempuan sebanyak 1.000 sedangkan untuk laki-laki 17.000 buah kondom. Di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yaitu membagikan 1.000 kondom gratis.

Di Jakarta tidak hanya sekedar pembagian kondom, melainkan diadakan Pekan Kondom Nasional. Yang mempuyai hajat tersebut adalah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Acara tersebut juga dibarengi Konferensi Kondom dengan tema “Gunakan Kondom dan Selamatkan Banyak Jiwa”.

Menanggapi peringatan hari AIDS dengan pembagian kondom, Psikolog Elly Risman, sangat tidak setuju. Menurutnya, pembagian kondom itu termasuk bentuk pembodohan dan memberikan pemahaman yang salah terhadap solusi pemberantasan HIV/AIDS. Karena dengan pembagian kondom praktek free sex justru semakin bertambah subur.

“Lihat saja, dengan pembagian kondom, masyarakat akan berfikir, nge-seks boleh asal pake kondom,” katanya kepada http://www.hidayatullah.com. “Memakai kondom itupun hanya berapa kali, selebihnya kan nggak mungkin setiap kali main kan,” katanya. Menurut Elly, pembagian kondom juga tidak efektif, sebab penularanya virus AIDS lewat hubungan seks, tapi kenapa diperbolehkan.

Tidak bisa dimungkiri, berkat aksi pembagian kondom tersebut, menurutnya membentuk mindset (gaya berfikir) yang salah di otak remaja. Kini remaja menjadi lebih permisif terhadap free sex, coba lihat ungkapan mereka, “hari gene masih virgin, capek deh!”. Hal itu sangat disayangkan Risman, ketika sedang sibuk menumbuhkan awarness dampak negatif tekhnologi di dunia cyber, malah disuburkan dengan pembagian kondom.

Namun sayang, menurut Elly  hal tersebut belum menjadi persoalan serius bagi pemerintah, terutama di level Depag, Diknas, Menag dan BKKBN.

“Solusi yang selalu diangkat hanya di “hilir” tidak di hulu,” Pengasuh Konsultasi Anak dan Keluarga di Yayasan Kita dan Buah Hati ini.

Menurutnya, saat ini  jarang sekali elemen yang mau berteriak lantang. Jika ada sangat sangat sedikit jumlahnya. Gaungnya pun menjadi tidak sekeras mereka “pengusung” kondomisasi.

Solusi yang tepat menurut Elly adalah mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan (familii dan tentangga). Dan yang lebih penting,  adalah peran orangtua.  Jangan sampai, anaknya terjerumus ke dalam free sex. Orangtua dan keluarga harus mengajarkan anak-anak mereka untuk tidak melakukan tindakan seks bebas melalui pendidikan agama. Bukan dengan bagi-bagi kondom secara gratis. [anshar/www.hidayatullah.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s