Why

Mengapa Harus menegakkan Islam???

Sebagai seorang yang mengaku muslim, saya pribadi harus dan semua yang lainnya yang telah berikrar bahwa Allah –lah Tuhannya dan Nabi Muhammad adalah utusan-NYa tentu sudah terbiasa dengan istilah syariah, orang-orang kafir pun tentunya banyak yang cukup mengenal ini.

Tetapi tentunya tidak hanya tahu, masing-masing memiliki pandangan tersendiri. Kenyataannya saat ini banyak orang atau juga sekelompok orang yang mengaku islam dan menyuarakan islam tetapi bila ditanya mengenai penegakkan syariah, nanti dulu

Islam di Indonesia khususnya, maka akan kita dapati jawaban yang menyesakkan hati (bila orang itu waras dan beriman, pasti merasa sakit hatinya), bahwa Islam itu tak perlu ditegakkan, tetapi diamalkan saja nilai-nilai moralitas universalnya, karena itu inti dari ajaran agama, itu katanya, naudzubillah min dzalik.

Sekarang apa bedanya orang-orang yang berkata seperti itu dengan orang yang mengaku Kristen, Budha, Hindu atau ideologi gak jelas lainnya.

Dasar

Syariat Islam adalah ajaran Islam yang membicarakan amal manusia baik sebagai makluk ciptaan Allah maupun hamba Allah.

Terkait dengan susunan tertib Syari’at, Al Quran Surat Al Ahzab ayat 36 mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan RasulNya sudah memutuskan suatu perkara, maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Oleh sebab itu secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang Allah dan RasulNya belum menetapkan ketentuannya maka umat Islam dapat menentukan sendiri ketetapannya itu. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat dalam Surat Al Maidah QS 5:101 yang menyatakan bahwa hal-hal yang tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. Al Ahzab:36

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Al Maidah : 101

Itulah salah satu dalil kewajiban bagi seorang mukmin untuk menerima dan menegakkan ISLAM dan syariah Islam.

Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan orang-orang beriman agar berIslam dengan masuk ke dalam ajaranNya secara totalitas. Bahkan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala tersebut diiringi dengan keharusan menjauh dari langkah-langkah syetan.

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah ayat 208)

Dari sini kita dapat simpulkan bahwa di antara makna “janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan” ialah mengikuti bagian tertentu saja dari ajaran Islam. Sementara bagian lainnya mengikuti ajaran selain Islam. Sedangkan ”Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya” berarti masuk ke dalam ajaran Islam secara totalitas. Atau berarti ”melaksanakan segenap ajaran Allah subhaanahu wa ta’aala dalam seluruh aspek kehidupan.” Baik dalam urusan kecil maupun besar. Baik itu urusan lahir maupun batin. Baik itu dalam perkara duniawi maupun ukhrawi. Entah itu aspek ideologi, moral, sosial, seni-budaya, politik, ekonomi, pendidikan, hukum, pertahanan keamanan maupun militer. Baik itu urusan kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan.

Pendek kata tidak ada satupun gerak-gerak seorang muslim kecuali ia kembalikan pengaturannya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai rabb, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai teladan maupun Islam sebagai dien (way of life). Inilah rahasia ucapan:

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Nabi Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai Dien (jalan hidup)” (HR Muslim 2/329)

Seorang muslim tidak mungkin -misalnya- beribadah secara Islam, berideologi liberal, berakhlak sekuler, beraqidah pluralisme, berekonomi yahudi, berpolitik machiavelli. Bila seorang muslim tampil seperti itu berarti ia telah membiarkan dirinya mengalami ”split personality”. Kepribadian tidak utuh sebagai seorang muslim-mu’min. Dan inilah yang memang dikehendaki oleh musuh-musuh Allah ta’aala, yakni syetan. Mereka telah berhasil dalam menjadikan kebanyakan Bani Israil seperti itu.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ

”Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” (QS Al-Baqarah ayat 85)

Realitas/Virus Destruktif

Namun ternyata seperti yang telah saya tulis di atas, ternyata banyak orang dari sebagian muslimin saat ini, menolak syariat Islam dengan entengnya. Bahkan ada jargon yang diungkapkan oleh dedengkot liberal di Indonesia “Islam yes, partai Islam No, bukannya saya setuju dengan sistem demokrasi kepartaian, tetapi hal itu menunjukkan ogahnya dia dan mengajak orang lain untuk menerima Islam sebagai agama ritual belaka tanpa mengambil Islam sebagai cara hidup, ideologi, dan sesuatu yang dicintai. Sudah hal yang umum saat ini banyak oraganisasi belabel Islam, para aktivisnya lebih suka membicarakan dan mengunggulkan paham demokrasi, liberal atau bahkan sosialisnya. Tak hanya itu, intelectual muslim pun banyak yang menyuarakan hal yang sama. Dilatarbelakangi pendidikan Ketuhanan ala barat dan posisi penting mereka di PTN atau PTS, mereka meyebarkan paham destruktif bagi mahasiswa Islam. Sungguh mengherankan beberapa waktu lalu beredar VCD sebuah acara orientasi MARU di sebuah IAIN, ada beberapa mahasiswa dengan tenang hati menghina Alloh dihadapan ratusan orang, tentunya ini hasil pendidikan gaya barat yang ada di IAIN hampir semua yang ada di Indonesia. Ada juga dosen yang menginjak lafal tulisan Alloh didepan mahasiswanya dan mengatakan itu hanya sebuah tulisan, hasil karya manusia, contoh perbuatan gila. Saya kira orang-orang kristen pun tidak berani terang-terangan melakukan hal itu didepan umum jika dia tidak ingin mati mendadak ditebas lehernya. Jangan-jangan mungkin mereka ini anggota freemasonry atau iluminati, kelompok anti agama. Tetapi mungkin saja mereka anak didiknya.

So, patutlah bagi kita waspada terhadap orang-orang seperti itu, itulah contoh orang munafik masa kini. Mereka memiliki media dan peran penting di berbagai organisasi.

Masih hangat di otak kita beberapa waktu lalu terjadi peristiwa monas yang mengkambinghitamkan Muslimin pembela Aqidah Islam sebagai pelaku kekerasan, yang mana merekatelah diprovokasi oleh orang-orang pendukung Ahmadiyah berlabel AKKBP. Di sana bercokol nama-nama penting, dari Si Dur, Syafei Maarif hingga Amin Rais.

Kembali

Itulah realitas kecil yang bisa saya ungkap dalam tulisan singkat ini, apa kita mau mnerima begitu saja, marilah kita turut mendukung dan menjadi penumpang dari gerbong penegakkan Islam dan syariah Islam di Indonesia ini khususnya dan Dunia kalu kita bisa, mengapa tidak.

Wass

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s